Artikel

Sabtu, 08 Oktober 2022

Akselerasi Literasi Digital di Masa Pandemi: Pengalaman belajar menulis bersama Guru Blogger Indonesia

Pendahuluan

Pandemi Covid 19 memberi dampak cukup signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan. Salah satu dampak positif yang ditimbulkan adalah terjadinya akselerasi digital. Akselerasi digital ini selanjutnya menjadi semacam “bom” yang memberi daya ledak cukup mengagetkan bagi para guru karena terjadinya perubahan drastis yang mengharuskan guru beradaptasi terhadap digitalisasi pendidikan. Digitalisasi pendidikan ini menuntut guru melakukan revolusi terhadap sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi daring (PJJ) yaitu sebuah proses pembelajaran melalui kelas-kelas virtual di mana guru dan peserta didik bertemu tanpa harus melakukan kontak fisik secara langsung.

Walaupun memberi dampak positif, revolusi sistem pembelajaran secara daring melalui kelas-kelas virtual ini justru menimbulkan masalah, tidak hanya bagi guru, namun juga bagi peserta didik dan wali murid yang secara langsung terdampak oleh diberlakukanya PJJ tersebut. Bagi guru misalnya persoalan yang muncul adalah terjadinya kesenjangan digital (digital devide) yang menjadikan guru sulit beradaptasi dengan pembelajaran berbasis digital. Ditambah lagi dengan persoalan yang dihadapi peserta didik dan orang tua yang memiliki keterbatasan dalam mengakses internet, tidak memiliki HP android, orang tua sibuk, permasalahan internal keluarga, dan segudang persoalan lainnya.

Di samping persoalan-persoalan yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran, ada satu persoalan guru yang harus juga mendapat perhatian serius yaitu rendahnya kompetensi menulis guru. Selama kegiatan PJJ, guru lebih terlihat disibukkan dengan pelatihan-pelatihan membuat modul, video pembelajaran, model pembelajaran daring dan sebagainya. Sehingga terlihat hanya sebagian kecil guru meluangkan waktunya selama pandemi ini untuk melakukan akselerasi kompetensi menulis.

Kegiatan PJJ selama pandemi ini sesungguhnya merupakan ruang kosong yang harus dimanfaatkan guru untuk meningkatkan kompetensi menulis. Dalam rangka meningkatkan kompetensi menulis guru, PGRI sebagai rumah besar guru seluruh Indonesia membuat jejaring komunitas-komunitas menulis salah satunya adalah komunitas Guru Blogger Indonesia yang mendesain teknik belajar menulis secara virtual menggunakan aplikasi Whats App (WA).

Selanjutnya melalui tulisan ini, penulis tidak akan menyoroti pengalaman pembelajaran jarak jauh dengan segudang persoalan yang terjadi karena persoalan ini tentu sudah banyak yang mengkajinya dari berbagai sudut pandang, namun hal menarik menurut penulis yang perlu dikaji adalah terkait proses belajar jarak jauh yang dilakukan guru sendiri untuk meningkatkan kompetensi menulis di saat pandemi. Karena itulah kemudian melalui tulisan ini penulis berbagi pengalaman belajar menulis online bersama PGRI dan Guru Blogger Indonesia sebagai sebuah ikhtiar untuk mendorong akselerasi literasi digital bagi guru.


Apa yang dimaksud Literasi Digital?

Literasi Digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital juga bisa dipahami sebagai bentuk kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi kengan kecakapan kognitif dan teknikal.[1]

Sebagai efek terjadinya pandemi Covid 19, sistem pembelajaran mengalami semacam revolusi yang menuntut guru memiliki kompetensi literasi digital, tidak hanya dalam mendesain media pembelajaran namun juga dalam mengkomunikasikan konten materi dalam sebuah tulisan. Dengan demikian akselerasi[2] literasi digital menjadi sebuah keharusan.

 

Apa dan bagaimana program kegiatan belajar menulis Guru Blogger Indonesia?

Organisasi PGRI sebagai rumah besar guru Indonesia berupaya memberikan kontribusi yang terbaik bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya bagi peningkatan kompetensi guru. Karena kompetensi guru adalah jawaban atas persoalan-persoalan yang begitu kompleks menyelimuti pendidikan di negara kita saat ini.

Prof. Dr. Unifah, M.Pd selaku Ketua Umum PB PGRI memaparkan bahwa PGRI bergerak pada tiga pilar, yaitu Profesionalisme guru, kesejahteraan guru, dan perlindungan guru. Untuk memperkuat ketiga pilar tersebut, PGRI dari pusat sampai daerah diharapkan memiliki atau menjadi smart learning center melalui kerjasama dengan berbagai pihak.

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, PGRI mendesain berbagai program peningkatan kompetensi guru. Keterampilan menulis merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru selaku garda terdepan dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Kompetensi ini dibentuk dengan membangun tradisi menulis di kalangan guru. Tradisi ini diikhtiarkan dengan membuat jejaring komunitas-komunitas menulis yang salah satunya adalah kelas belajar menulis online PGRI.

Kelas belajar menulis online PGRI merupakan salah satu program untuk meningkatkan kompetensi menulis guru. Program ini diinisiasi oleh Wijaya Kusumah, M.Pd yang didesain secara virtual menggunakan aplikasi Whats App (WA).

Kelas belajar menulis ini dilaksanakan sebanyak 20 kali pertemuan  secara online dan dilaksanakan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat selama 2 jam mulai pukul 19.00 – 21.00 WIB dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang kompetensinya tidak bisa diragukan lagi.  Narasumber yang dihadirkan adalah mereka yang memiliki keahlian dalam menulis yang karyanya sudah tidak terhitung jumlahnya. Narasumber yang dihadirkan tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berlatar belakang seorang guru berprestasi, guru inspiratif dari daerah 3T, dosen, motivator, direktur penerbitan buku, manajer pemasaran buku, kalangan militer dan berbagai latar belakang lainnya yang memiliki korelasi secara langsung maupun tidak terhadap dunia tulis menulis.

Adapun alur dalam mengikuti kegiatan belajar menulis online ini adalah di mana peserta harus melakukan registrasi kemudian bergabung di Grup WA Belajar Menulis. Selanjutnya peserta harus memiliki blog yang nantinya akan dijadikan sebagai media dalam praktik menulis. Kemudian dalam setiap pertemuan peserta diwajibkan membuat resume dari pemaparan materi yang disampaikan oleh narasumber. Resume inilah yang kemudian dipublikasikan peserta pada blog pribadi yang sudah disiapkan sebelumnya.

Di blog ini peserta diharapkan berlatih menulis, menulis ide dan memaparkan gagasan dengan mengacu pada paparan materi narasumber. Di samping itu peserta diarahkan untuk melakukan blog walking yaitu semacam silaturahmi setiap peserta ke blog peserta lainnya. Tujuannya adalah agar terbangun motivasi dan semangat untuk terus menulis, karena dalam kegiatan silaturrami ini peserta saling  memberikan komentar masukan, saran, motivasi sehingga akan terbangun kepercayaan diri penulis dalam mempublikasikan karyanya yang pada akhirnya nanti karya tersebut menjadi lebih berkualitas.

Di akhir program pelatihan peserta berhak mendapatkan sertifikat pelatihan 40 JP, namun ada syarat yang harus dipenuhi oleh peserta yaitu setiap peserta diwajibkan membuat 20 resume berdasarkan materi yang disampaikan narasumber pada setiap pertemuan. Tidak hanya sampai di sini, peserta juga diwajibkan untuk menerbitkan buku dari kumpulan resume yang sudah dibuat, jika kewajiban-kewajiban ini terpenuhi maka peserta berhak mendapatkan sertifikat pelatihan.

Apa problem yang dihadapi selama mengikuti program belajar menulis?

Dalam mengikuti kegiatan belajar menulis online di saat pandemi bersama Guru Blogger Indonesia tentu banyak persoalan yang dihadapi, banyak kendala yang muncul, namun persoalan yang hampir semua penulis pemula hadapi adalah kesulitan untuk menemukan ide dalam menulis. Di setiap pertemuan, peserta diharuskan membuat resume dan ini menjadi sebuah pesoalan karena belum terbiasa menulis sehingga merasa kesulitan menemukan ide.

Pada prinsipnya menemukan ide dan menulis itu mudah, namun menulis menjadi sesuatu yang begitu sulit ketika belum menjadi budaya, belum dibiasakan. Bukankah sesuatu yang tidak terbiasa kita lakukan menjadi sesuatu yang sulit?

Salah satu tips yang penulis jadikan solusi dalam kesulitan membuat resume ini adalah dengan menjadikan menulis sebagai sebuah ajang silaturrahmi. Bagaimana menulis dengan kekuatan silaturrahmi? Pertanyaan ini mungkin bisa terjawab dengan mengqias (meminjam bahasa kaidah ushul fiqh) silaturrahmi dengan sodaqah.

Dalam agama (baca: Islam), sodaqoh memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dalam membuka pintu rizki. Sodaqah pada hakikatnya tidaklah mengurangi harta benda yang kita berikan, namun justru akan menambah harta kita berkali-kali lipat. Hal ini misalnya bisa kita cermati dalam al Quran surat al An’am ayat 160.

 

"Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan”

Merujuk pada konsep sodaqah ini kita bisa memahami bahwa jika kita mengaktifkafkan kekuatan silaturrahmi, maka skill menulis akan melejit. Namun sebagai langkah awal yang perlu kita lakukan adalah mengubah dulu konsep berpikir tentang menulis.

Seorang yang ingin menjadi penulis hebat harus mampu untuk mengubah mindsetnya tentang potensi menulis yang dimiliki setiap orang. Banyak orang yang kemudian terhalang untuk menggali potensi tersebut karena menganggap bawa menulis itu adalah bakat sehingga mulai menyerah, tidak ada waktu untuk menulis, tidak ada ide, tulisan jelek, tidak percaya diri, dan sejuta alasan lainnya yang kemudian “membunuh” niatnya untuk menulis.

Di samping itu, orientasi menulis juga harus didesain ulang sebab banyak di antara kita belajar menulis semata-mata hanya "berburu sertifikat " untuk kenaikan pangkat. Namun orientasi ini perlu didesain agar lebih menjurus pada upaya mengaplikasikan potensi menulis dengan mendokumentasikannya dalam bentuk sebuah buku tunggal, atau mulai tergerak menulis di blog pribadi.

Selanjutnya bagaimana menulis dengan kekuatan silaturahmi itu dilakukan? Menulis merupakan sebuah keterampilan yang setiap orang memiliki peluang untuk mendapatkan keterampilan tersebut. Keterampilan ini dapat dilatih dengan menghidupkan kekuatan silaturrahmi. Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab yakni Shilah yang artinya hubungan atau sambungan dan Ar- rahim yang bermakna kerabat atau saudara. Kata silaturahim kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia yakni silaturahmi yang artinya tali persahabatan (persaudaraan), dan bersilaturahmi yang artinya mengikat tali persahabatan (persaudaraan). Setidaknya ada 6 cara untuk memudahkan dalam melahirkan ide menulis dengan kekuatan silaturrahmi

PERTAMA Silaturrahmi dengan membaca buku. Silaturrahmi dalam mengaktifkan skill menulis dapat dilakukan dengan proses membaca buku. Dengan membaca buku kita bisa membangun hubungan dengan pikiran-pikiran yang dituangkan penulisnya dalam buku tersebut. Dengan membaca buku, skill menulis secara tidak langsung dapat dilatih dan dapat dikembangkan dengan mengadopsi teknik menulis atau ide-ide yang ditawarkan penulis dalam bukunya.

Di samping membaca buku, menggali skill menulis dapat juga dilakukan dengan membaca status orang, atau berkunjung dan membaca blog orang lain, bahkan mungkin membaca apa saja tidak mesti itu berupa teks tertulis. Kita bisa membaca kehidupan orang lain yang mungkin bisa menginspirasi kita untuk menulis, membaca alam, atau mungkin membaca diri kita sendiri.

KEDUA Silaturrahmi dengan menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar juga bagian dari silaturrahmi yang bisa menumbuhkan skill menulis. Ketika berada di majlis ta’lim misalnya kita bisa menjadikan pesan-pesan kebaikan yang disampaikan penceramah sebagai materi untuk membangkitkan skill menulis.

KETIGA, silaturrahmi dengan menginspirasi dan memotivasi orang lain. Setiap orang tentu tidak lepas dari persoalan hidup. Jika seseorang menghadapi sebuah masalah atau persoalan dalam kehidupannya tentu membutuhkan orang lain sebagai solusi. Ketika kita bisa hadir sebagai solusi, tentu ini menjadi peluang untuk mengaktifkan skill menulis, kita bisa menuangkan permasalahan dan solusi yang kita tawarkan tersebut dalam sebuah tulisan yang tentu saja tulisan ini selanjutnya bisa menjadi referensi bagi orang banyak ketika menghadapi permasalahan yang sama atau serupa.

Pandemi Covid 19 yang terjadi saat ini menjadi semacam peluang bagi guru untuk selalu bersilaturrahmi, memunculkan ide-ide menulis dari hal-hal unik dan menarik yang ditemukan. Tidak bisa kita pungkiri ada segudang persoalan yang menggerogoti selama pandemi terjadi, mulai dari persolan guru sendiri yang sulit untuk beradaptasi dengan digitalisasi pembelajaran, belum lagi persolan peserta didik yang sulit mengakses internet, tidak ada kuota, HP bermasalah dan sebagainya. Ditambah lagi persoalan-persoalan internal peserta didik seperti orang tua sibuk, perceraian, dan sebagainya.

Persoalan-persoalan tersebut di atas sesungguhnya menjadi peluang besar bagi guru untuk melejitkan potensi menulis dengan mendokumentasikan pemikiran-pemikiran ataupun solusi yang bisa ditawarkan untuk meminimalisir persoalan yang terjadi.

 Apa suka duka belajar menulis bersama Guru Blogger Indonesia?

Belajar menulis bersama Guru Blogger Indonesia memberi kesan yang mendalam bagi peserta, beribu suka yang dirasakan namun tidak sedikit pula duka yang muncul sehingga membuat hati seolah enggan tersenyum.

Di antara suka yang diperoleh selama kegiatan belajar adalah pertama jejaring sosial bertambah luas, kita bisa bersilaturrahmi dengan orang-orang hebat dari seluruh Indonesia tanpa ada sekat dan pembatas. Kedua tentu kita bisa menggali ilmu langsung dari narasumber-narasumber hebat serta penulis-penulis handal dari berbagai macam profesi, baik dosen, penulis, penerbit, guru, militer, dan berbagai macam latar belakang keahlian lainnya. Semua berkolaborasi dan bersilaturrahmi melalui jejaring dunia maya untuk berbagi ilmu serta pengalaman sebagai ikhtiar untuk menjadikan menulis sebagai sebuah tradisi.  Ketiga, kesan yang paling membekas adalah melalui kegiatan ini sudut pandang kita tentang dunia tulis menulis kini terbuka dan mulai bergeser bahwa menulis bukanlah hal yang sulit namun sesuatu yang mudah dan pasti bisa kita lakukan, hal ini terbukti bahwa penulis saat ini sudah bisa menerbitkan buku antologi dan insha Allah dalam waktu dekat akan menerbitkan 3 buku solo tentang bunga rampai konsep pendidikan dan pemikiran tokoh pendidikan.

Di samping kesan manis yang dirasakan, tidak sedikit juga duka yang terjadi selama mengikuti kegiatan belajar menulis. Kesan menyedihkan yang paling terasa adalah saat asyiknya menikmati tombol-tombol keyboard, merangkai kata demi kata tiba-tiba akses internet terputus dan diperparah lagi saat file tulisan hilang karena lupa menekan tombol shift as.

Penutup

Pandemi covid 19 memberi ruang bagi guru untuk mengembangkan potensi diri, tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi dalam penggunaan media-media berbasis digital, namun hal urgen yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah peningkatan kompetensi menulis. Kompetensi menulis ini menjadi sangat urgen mengingat penguasaan literasi dan numerasi merupakan program pemerintah yang saaat ini lagi digalakkan.

Pengalaman belajar menulis online bersama PGRI dan Guru Blogger Indonesia di saat pandemi yang penulis paparkan dalam tulisan ini, diharapkan menjadi inspirasi dan motivasi  kita bersama selaku seorang guru untuk menjadikan menulis sebuah tradisi dalam meningkatkan kompetensi profesionalisme sebagai ikhtiar mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

 

                 



[2] Dalam KBBI dijelaskan bahwa akselerasi memiliki definisi yang varatif. Akselerasi bisa diartikan 1. Proses mempercepat; 2. Peningkatan kecepatan; 3. Percepatan; 4. Laju perubahan kecepatan (lihat: http://kbbi.web.id/akselerasi.html)

Rabu, 20 April 2022

MENINGKATKAN SKILL MENULIS ALA PROFESOR INDRAJIT

Pada pertemuan kali ini, Senin 15 Pebruari 2021 materi disuguhkan oleh Prof. Indrajit yang akan berbagi tips meningkatkan skill menulis.

Di awal pemaparannya professor berandai-andai dengan mengatakan: “Seandainya memiliki waktu seminggu berliburan bersama suami/istri dan anak-anak, pasti dalam seminggu tersebut banyak sekali yang bisa diceritakan”. Ungkapan yang disampaikan ini sesungguhnya memberi signal bahwa kita tidak akan kehabisan ide dalam menulis, karena akan banyak hal yang bisa diceritakan dan dituangkan dalam tulisan.

Lebih lanjut kemudian Proffesor Indrajit menceritakan bahwa di hari ini beliau memebersamai anak bungsunya belajar daring (online) sembari berdiskusi ringan terkait masalah pengalaman belajar online bersama tiga orang gurunya mulai dari jam 8 pagi sampai dengan jam 12 siang. Selanjutnya karena iseng, professor kemudian menulis pengalaman tersebut dalam sebuah catatan pribadi, betapa terkejutnya beliau bahwa ternyata pengalaman yang diceritakan tersebut sudah terdeskripsi 10 halaman. Padahal yang ditulis adalah menceritakan kembali apa yang dialami dari pagi hingga petang hari. Dengan demikian bisa dibayangkan jika menulis setiap hari kita bisa menghasilkan 300 halaman setiap bulannya.

Berdasarkan pengalaman yang disampaikan tersebut, dapat dipahami bahwa pada dasarnya teknis menerbitkan buku dalam waktu satu minggu cukup sederhana, hanya dengan mengubah komunikasi dari oral (mulut) ke dalam tulisan. Hal ini bisa dilakukan dengan memilih satu topik yang sangat disukai dan dikuasai lalu menceritakan pengalaman tersebut dalam tulisan. Sebagai contoh jika kita ngefans dengan Valentino Rossi dan Moto GP kita bisa menceritakan apa saja tentang VR46 dan Moto GP, jika suka dengan kuliner kita bisa menjadikan menu makanan dan aneka resep sebagai kontens tulisan, yang suka traveling, menyanyi, mengaji, bermain catur, membuat puisi dan sebagainya tentu ini bisa dijadikan sebagai konten yang bisa diceritakan dalam tulisan setiap harinya. Intinya sederhana, lakukan aktivitas ini setiap hari seperti kita biasa sholat lima waktu sehari semalam, jika hal ini menjadi kebiasaan apalagi sampai membuat ketagihan, maka target harus ditingkatkan menjadi 2-5 halam per hari.

Namun membiasakan aktifitas sederhana ini apalagi sampai membuat kita ketagihan bukan hal yang mudah, karena membutuhkan komitmen dan keistiqomahan. Semua persoalan ini tentu saja datang dari dari faktor internal yaitu diri kita sendiri, maka hal yang harus kita lakukan sesungguhnya adalah melawan diri sendiri.

Menulis juga bisa dipicu karena hal-hal lain. Misalnya orang tua yang sering sekali memberikan nasihat ke anak-anak remaja tapi mereka cuek atau tidak mendengarkan. Yang bisa dilakukan adalah menuliskan nasehat dalam bentuk surat, misalnya dengan menuliskan "surat untuk anakku yang kubanggakan", lalu diprint out dan letakkan di meja belajar atau di kamarnya, trik ini bisa menjadi ikhtiar mengubah karakter anak yang “anti nasihat”.

Intinya adalah bahwa menulis itu bukan saja bertujuan untuk publikasi. Menulis bisa menjadi ikhtiar meningkatkan imunitas tubuh (supaya tidak mudah terjangkiti covid). Karena menulis dapat membuat orang lain bahagia, tersenyum, gembira, tertawa. Dengan menulis cucu, cicit, dan anak keturunan kita dapat mengenal siapa kita, sebagai mbah buyutnya. Karena apapun yang kita tulis akan terekam abadi di dunia maya.

Menulis adalah sebuah komitmen, jika kita bisa berkomitmen untuk menulis satu hari saja dari pagi hingga malam hari kita bisa menghasilkan sebuah buku. Kita bisa memaksa diri untuk mendeskripsikan apa saja, termasuk hal-hal yang aneh misalnya kita kedatangan  Malaikat dan memberitahukan bahwa usia kita tinggal 24 jam lagi, dan dalam waktu yang tersisa kita tidak bisa bertemu dengan siapa-siapa kecuali ditemani sebuah laptop, buku, dan sebuah pena, dengan benda-benda tersebut kita akan menyampaikan pesan kepada orang-orang terdekat, dan sangat memungkinkan dalam situasi semacam ini kita akan berhasil menghasilkan sebuah buku yang berisi kisah mengharukan dalam durasi waktu 24 jam.

Dengan demikian, membangun kreatifitas dan skill menulis sesungguhnya memerlukan komitmen dan kestiqomahan yang maksimal serta sedikit pemaksaan.  “Pemaksaan” menjadi sangat penting mengingat sebuah kebiasaan yang positif terkadang harus diawali dengan sebuah “paksaan”. Hal ini bisa kita lakukan misalnya dengan meluangkan waktu setidaknya 2 jam sehari untuk tidak diganggu siapa pun, agar bisa konsentrasi menulis.  Karena sebagai penulis pemula, konsentrasi dan ketenangan sangatlah dibutuhkan.

Lalu bagaimana jika ketika menulis kita mulai “mogok” disebabkan kehabisan ide? Hal ini biasanya terjadi karena badan dan otak kita sudah mulai lelah, karena itu kita perlu beristirahat sejenak misalnya dengan bersantai-santai, olah raga, bermain dengan anak, dan bercengkrama bersama keluarga, mendengarkan murottal, nasyid, atau apa saja yang bisa mengendorkan  otot otak dan badan yang tegang. Setelah semua ini kita lakukan dan merasa energy kita kembali baru kemudian aktivitas menulis bisa kita mulai lagi.

Cara menulis cepat bisa dilakukan apabila kita berada pada lingkungan yang kondusif. Namun tiap orang bisa berbeda. Ada orang yang justru bisa menulis cepat dalam keramaian, di sekitarnya ada orang ramai sedang ngobrol, bermain, dan sebagainya. Namun sebaliknya ada orang yang membutuhkan suasana tenang untuk bisa menulis baru bisa menulis cepat apabila suasana tenang.

Setiap tulisan itu sudah ada pembacanya masing-masing. Tidak mungkin kita buat tulisan yang bisa memuaskan banyak orang. Di era digital ini tidak ada halangan bagi kita untuk berkarya, mendokumentasikan tulisan. Manfaatkan blog untuk menyampaiakn tulisan, jika tulisan tersebut bermanfaat, maka jangan kaget ketika tiba-tiba ada banyak sekali orang yang menikmatinya dan meninggalkan pesan-pesan yang positif dari tulisan yang kita upload di blog. Tulisan yang datang dari hati tulus, tidak ada yang salah. Sebuah  pepatah mengatakan:

"jika anda melakukan hal-hal yang anda sukai, anda tidak akan merasa bekerja satu detik pun!"

Biarkan ide mengalir, karena menulis, bekerja, mendidik, mengasuh anak, itu adalah satu tarikan nafas. Jangan mau diatur oleh waktu, kita yang harus mengatur waktu. Kondisi Covid-19 ini adalah saat yang baik untuk belajar mengelola waktu.

Dalam menulis, referensi adalah pendukung ide atau gagasan yang kita tulis, terutama jika kita ingin membuat karya ilmiah. Tujuannya adalah agar pendapat kita secara akademik memiliki dasar ilmunya. Sementara untuk tulisan fiksi, cerita, dan sebagainya cukup didasarkan pada imajinasi kita. Nah untuk tulisan yang membutuhkan referensi dari jurnal, bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah kita tulis dulu semua yang ada di kepala kita tanpa melihat referensi, setelah jadi baru kita mencari referensi pendukungnya. Sementara cara kedua adalah kita baca dulu sebanyak mungkin referensi yang ada, baru kemudian kita mulai menulis sampai tuntas.

Dalam menulis kita harus siap jika tulisan kita diabaikan orang. Ada sebuah pepatah yang mengatakan begini "dalam menghasilkan karya tulisan, tidak perduli beberapa kali kita jatuh dan dicemoohkan orang, tapi lihatlah berapa kali kita dapat bangun dan bergerak untuk menulis lagi setelah belajar dari peristiwa masa lalu!".

Fokuskan pada orang yang menyukai dan memuji tulisan kita. Tidak perlu menghiraukan mereka yang mencemooh atau menghina kita. Yang penting tulisan yang kita buat tulus, dan dari lubuk hati terdalam. Pencipta kita yaitu Tuhan YME itu tersenyum setiap kali kita menghasilkan tulisan yang berisi kejujuran dan ide dari kita sebagai mahluknya yang jauh dari sempurna.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, motivasi itu terkadang harus diciptakan jika ada pressure. Pressure bisa datang dari luar atau dari dalam diri sendiri, misalnya dengan membuat target. Ini cerita nyata. Dulu saya punya perjanjian dengan istri saya ketika baru menikah. Jika dalam satu hari saya tidak bisa memperlihatkan sebuah tulisan dalam 5 halaman, maka saya akan tidur di sofa, di luar kamar.

Pada intinya, semua bisa dituliskan. Bahkan jaman sekarang, publikasi itu tidak lagi harus berbentuk buku. Anda bisa menerbitkannya dalam bentuk e-book. Seperti halnya musik sudah Jarang yang menjual kaset atau CD lagi. Semua yang dijual adalah file, membuat e-book lebih cepat dan membuat dampaknya lebih besar daripada buku klasik dengan format fisik.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Artinya adalah bahwa dari semenjak dulu nenek moyang kita ingin agar kita menulis, karena hanya dengan menulislah maka kita dapat hidup seribu tahun lagi.

Jumat, 19 Maret 2021

MENELUSURI JEJAK PERJALANAN SANG GURU: TGH. MUSTHOFA UMAR ABDUL AZIZ (Bagian 2)

Setelah tidak lagi menjadi siswa di Sekolah Rakyat, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz dididik oleh orang tuanya di rumah dengan memperdalam ilmu agama sembari membantu ayahnya bekerja di sawah dan terkadang membantu ibunya berjualan kue, dan kondisi ini berlangsung kurang lebih selama 5 tahun karena setelah itu beliau kembali menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Pancor Kabupaten Lombok Timur di bawah bimbingan TGKH. M. Zainudin Abdul Madjid.

TGKH. M.  Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang ulama di Pulau Lombok yang secara genitas berasal dari garis keturunan darah biru. TGKH. M.  Zainuddin Abdul Madjid dilahirkan di kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1316 H bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 M dari perkawinan TGH. Abdul Madjid dengan seorang wanita bernama Hajah Halimah al-Sa'diyah. Sejumlah kalangan berpendapat bahwa TGKH. M.  Zainuddin Abdul Madjid berasal dari  keturunan orang-orang terpandang, yaitu keturunan sultan-sultan Selaparang. Argumen ini paralel dengan analisa yang diajukan oleh seorang antropolog berkebangsaan Swedia bernama Sven Cederroth, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan TGKH. M.  Zainuddin Abdul Madjid ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum. 

Praktek ziarah semacam ini memang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk masyarakat Sasak, untuk mengidentifikasikan diri dengan leluhurnya. Di samping itu pula, TGKH. M.  Zainuddin Abdul Madjid tidak pernah secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap anggapan dan pernyataan-pernyataan yang selama ini beredar tentang silsilah keturunannya, yakni kaitan genetiknya dengan sultan-sultan Kerajaan Selaparang

TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz menuntut ilmu di bawah bimbingan TGKH. M. Zainudin Abdul Madjid kurang lebih selama 4 tahun. Pendidikan di Pancor seharusnya diselesaikan selama 6 tahun, namun karena TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz tergolong santri yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata maka pendidikannya di Pancor dapat diselesaikan hanya dalam waktu 4 tahun. Dalam keseharian di pondok, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz terkenal sebagai santri yang sangat rajin belajar dan beribadah. Semangat belajar yang menjadi karakteristiknya semakin produktif karena ditopang oleh kemampuan akademiknya yang cukup tinggi. Dalam waktu yang relative singkat beliau dapat mengusai materi kitab yang disajikan. Satu hal yang menjadi tradisi TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz ketika berada di pondok adalah selalu tidur lebih awal dan bangun cepat. Pada sepertiga malam beliau selalu menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan Allah SWT melalui Qiyam al Lail, Tilawah al Quran, dan mengkaji kitab-kitab yang telah dipelajari serta melakukan wirid dzikir.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Pancor pada tahun 1949, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz akhirnya kembali ke kampung halaman dan mengabdikan diri di lembaga pendidikan yang dibangun kakak beliau yaitu TGH. Muhammad Sakaki. Lembaga pendidikan ini berorientasi untuk mendidik dan membina anak-anak dalam pendidikan keagamaan. Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan ini mendapat respon yang cukup positif dari masyarakat, sehingga masyarakat pun menyarankan agar jangkauan lembaga ini diperluas sehingga tidak terbatas untuk mendidik anak-anak namun juga remaja atau masyarakat umum. Dalam rangka mewujudkan harapan masyarakat tersebut, lembaga pendidikan yang pada awalnya bernama Nahdlatul Aulad berubah menjadi Nahdlatul Muslimin.

Di samping menjalankan profesi sebagai seorang pendidik di lembaga Nahdlatul Muslimin, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz juga membuka peluang usaha berupa menjual sembako dan bisnis jual beli tanah. Setelah sekian lama bergelut di dalam dunia pendidikan dan dunia usaha, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz memutuskan untuk pergi berhaji ke Tanah Suci melalui jalur laut dengan menggunakan kapal.

Sekembali dari Tanah Suci, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz menyempatkan diri untuk bersilaturrahmi dengan sang guru TGKH. M. Zainudin Abdul Madjid. Di sela-sela agenda silaturrahmi tersebut, Sang Guru menyarankan TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz untuk melanjutkan studi di Makkah untuk memperdalam kajian terhadap kitab-kitab keislaman. Setelah cukup lama merenungi saran dari Sang Guru, maka TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz akhirnya memutuskan untuk melakukan pengembaraan ke Tanah Suci mengambil berkah ilmu dari para masyaikh.

TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz cukup lama menuntut ilmu di Makkah. Tidak hanya menuntut ilmu, beliau juga dipercaya oleh pemerintah Arab Saudi sebagai tim pengajar di Masjidil Harom, tugas ini beliau jalankan kurang lebih selama 2 tahun terakhir sebelum dikeluarkan kebijakan oleh pemerintah Arab Saudi terkait larangan mengajar di Masjid al Haram bagi pengajar yang tidak memiliki surat domisili. Pada tahun 1985 pemerintah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan bahwa seluruh ulama non Arab tidak lagi diperkenankan mengajar di Masjidil Harom kecuali yang memiliki surat keterangan domisili. Terkait kebijakan ini, maka TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz akhirnya kembali ke Pulau Lombok dan mendirikan Pondok Pesantren Al-Aziziyah.

Setelah cukup lama mengabdikan diri kepada masyarakat untuk mendistribusikan ide dan pemikiran beliau serta ikhtiar membumikan al Quran di Pulau Lombok melalui Pondok Pesantren Al-Aziziyah, tepat di hari Kamis tanggal 1 Rajab 1435 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Mei 2014 sekitar pukul 11.40 WIB TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz kembali ke rahmatullah dengan meninggalkan 1 orang istri yaitu Hj. Fauziyah dan 8 orang putra putri yaitu Drs. H. Munawwir Musthofa, SH, MH, H. Munawwar Hadi, S.H, H. Fauzul Bayan Musthofa, S.Ag, TGH. Fathul Aziz Musthofa, Hj. Fuziyati Musthofa, H. Fauzan Musthofa, S.H, H. Fawwaz Musthofa, S.H, M.A, dan Hj. Zakiyah Musthofa, S.Pd.I.

TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz meninggalkan warisan berharga kepada masyarakat Lombok yaitu ribuan santri, dewan asatidz dan sebuah lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang menjadi pusat pengembangan program Tahfizh al Quran di Pulau Lombok. Warisan tersebut tentu saja hingga kini memberikan kontribusi yang cukup signifikan terutama dalam ikhtiar pengembangan program Tahfizh al Qur’an di Pulau Lombok. Estapeta perjuangan TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz sejatinya harus senantiasa dilanjutkan agar ikhtiar membumikan kalam-kalam Tuhan di Pulau seribu Masjid dapat terwujud.

Guru-guru TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz

Kapasitas keilmuan yang dimiliki TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz tidak lepas dari peran para guru yang telah membimbing dan membina beliau baik ketika berada di Lombok maupun di Makkah al Mukarromah. Di antara guru-guru beliau adalah: (1) TGH. Umar Abdul Aziz, adalah orang tua sekaligus guru TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz. Sejak usia dini beliau secara intens dibimbing untuk memahami dasar-dasar agama terutama persoalan-persoalan terkait al-Quran. (2) TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, adalah sosok yang juga berjasa dalam membimbing TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz ketika beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Panncor Lombok Timur. (3) TGH. Lalu Zainal Abidin, Sakra Lombok Timur. (4) TGH. M. Rois, Sekarbela Kota Mataram. (5) TGH. Abdul Hafizh, Kediri Lombok Barat; (6)   Syekh Hasan Masyath, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar tentang Hadits Bukhori Muslim. (7)  Syekh Muhammad Amin Quthby; (8)   Syekh Muhammad Qadir as-Syangkithy; (9)  Syekh Yahya Al-Hindy; (10) Syekh Yasin al-Fadany, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar Ilmu Sanad Hadits; (11) Syekh Zaid Hasan al-Yamani, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz Ushul Fiqh; (12) Syekh Syekh Ahmad Anshori, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar tentang Fiqih; (13) Syekh Anizar Hamdi al-Iraqy, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar tentang ilmu Tafsir; (14) Syekh Manshur, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar tentang sejarah; (15) Syekh Abu Zakaria Yahya, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar Ilmu Tauhid; (16) Syekh Zakaria Billa, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar Ilmu Ushul Fiqh; (17) Syekh Abdullah al-Sankiti Murtania, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar Ilmu Nahwu; (18) Syekh Abdul Hamid al-Ubadi, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz belajar Ilmu Tasawuf; (19)  Dan beberapa masyaikh lannya. (Bersambung)

Selasa, 09 Maret 2021

KISAH GURU INSPIRATIF DARI SUDUT TIMUR INDONESIA (Pertemuan ke 23)

Waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa malam ini kita sudah memasuki pertemuan  ke 23, Rabu 24 Februari 2021. Pada pertemuan kali ini perkuliahan akan disuguhkan oleh narasumber hebat, yang akan mengulas perjalanan kisahnya menjadi guru di "Sudut Timur Indonesia". Beliau adalah Khamdan Muhaimin, S.Pd, Gr seorang guru di SMPN 5 Sambi Rampas Kab. Manggarai Timur, Provinsi NTT.

Pak Khamdan Muhaimin bukanlah orang yang berasal dari “Timur Indonesia”, namun beliau adalah kelahiran Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah yang selanjutkan mengabdikan dirinya untuk membangun pendidikan di Sudut Timur Indonesia yaitu di kabupaten Manggarai Provinsi NTT. Beliau bertugas di daerah terpencil dengan kategori daerah 3T (Terdepan, terluar dan tertinggal), daerah yang cukup jauh dari hingar bingar kehidupan kota yang serba lengkap dengan fasilitas yang menopang kehidupan masyarakat.

Pak Khamdan mengabdi di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) dari tahun 2015 sampai sekarang kurang lebih selama 6 tahun. Mendengar istilah daerah 3T tentu kita sudah bisa membayangkan kondisi daerah tersebut, seperti yang dipaparkan Pak Khamdan bahwa kondisi daerah tempatnya bertugas tidak ada akses listrik, sinyal susah, air susah, jalan rusak mendaki menurun sedangkan mata pencaharian masyarakat berkebun/petani kopi yang hasil panenya satu tahun satu kali. Sehingga kehidupan ekonomi masyarakat adalah ekonomi menengah ke bawah. Di sini terdapat 7 kampung yang mana masing-masing kampung lokasinya berjauhan antara yang satu dengan lainnya.

Akses menuju Ibu Kota Kabupaten membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam. Jadi untuk sekedar menikmati semangkuk bakso, mie ayam, nasi gorong, sate dan lainnya kita harus menempuh perjalanan 8 jam.

Warga di "Sudut Timur Indonesia" ini tidak pernah atau bahkan  jarang sekali membeli sayur ke kota karena umumnya mereka menanam sendiri segala kebutuhan hidup untuk dimakan sehari-hari, alam sudah menyediakan apa yang mereka butuhkan. Mereka menanam labu, daun singkong, kubis, buncis, daun pepaya. Tetapi makanan favorit adalah daun singkong, labu beserta daunya karena tumbuh setiap saat (tidak mengenal musim) sedangkan kubis menunggu musim kemarau. Untuk lauk kita biasanya dengan telur,mie instan, ikan asin, ikan basah kalo musim ikan dan ayam pedaging .

Adat di daerah 3T sangat kuat, berbagai acara adat masih ada misalkan di daerah ini adalah Pertama Irong, tidak boleh berteriak, menyalakan api, ribut, selama 1-2 hari, tujuanya adalah supaya hasil panen melimpah. Kedua, Acara mbaru dor, adalah masuk rumah baru mereka menggunakan berbagai acara adat. Ketiga, Kepok tuak adalah adat menyambut kedatangan tamu dengan berbicara adat menggunakan tuak, rokok dan ayam kampung. Ungkapan ketulusan orang disini menerima tamu dan kegembiraan menyambut tamu baru. Keempat      Makan padi baru, acara pesta sekolah dll.

Kondisi yang serba terbatas inilah yang kemudian membuat Pak Khamdan termotivasi untuk mendokumentasikan kisahnya dalam sebuah tulisan. Menulis tentang berbagai  tantangan dan solusi menjadi pendidik di daerah 3T. Pertama kali menulis langsung menjadikannya finalis (10) besar kegiatan Simposium GTK 2016 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Kemdikbud RI.

Motivasi terbesar yang membuatnya menulis adalah keinginan agar pendidikan di daerah khusus atau daerah terpencil yang masih serba kekurangan dari berbagai akses dapat diperhatikan oleh pemerintah. Di samping itu tentu saja dengan menulis tentang kisah pengabdian di daerah 3T dapat memotivasi guru-guru yang berjuang di garis depan daerah terpencil supaya para pendidik semangat  berinovasi dan  menginspirasi walaupun berada di tempat yang paling sudut dari Indonesia. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah tulisan ini akan menjadi “tamparan” yang cukup keras bagi kita para pendidik yang ditakdirkan mendidik di daerah perkotaan, daerah yang serba lengkap dengan fasilitas namun justru belum mampu mendedikasikan diri seutuhnya untuk kemajuan pendidikan.

Memunculkan ide dalam menulis dapat dilakukan dengan mencari permasalahan-permasalahan untuk selanjutnya kita carikan solusinya seperti yang Pak Khamdan lakukan, menulis dengan mengidentifikasi  persoalan-persoalan yang ditemukan terutama berkaitan dengan pendidian di daerah 3T kemudian selanjutnya memberikan solusi dari persoalan-persoalan tersebut. Persoalan dan solusi ini selanjutnya didokumentasikan dalam tulisan setidaknya agar lebih banyak memberi manfaat, sehingga setiap orang yang membaca akan terinspirasi dan bisa menjadikannya referensi dalam menyelesaikan persoalan yang serupa.

“Sebaik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”

Di daerah 3T Pak Khamdan mendirikan rumah belajar pada tahun 2016 dan masih eksis sampai sekarang.  Rumah belajar ini dibangun dalam rangka mengarahkan anak-anak daerah 3T untuk belajar, mengingat segudang aktivitas yang harus mereka jalani sepulang sekolah. Anak-anak setelah pulang sekolah makan, istirahat sebentar kemudian ke kebun untuk ambil kayu bakar dan sayur kemudian pulang makan malam dan tidur karena kelelahan sehingga tidak sempat belajar. Melihat kondisi itu maka didirikanlah rumah belajar agar  anak-anak semangat belajar dengan menyajikan kegiatan les matematika, membaca buku, menggambar, mewarnai, bulu tangkis , bola voli, puzzle dan sebagainya. Sedangkan malamnya pukul 19.30 wita anak-anak juga dapat belajar mengoperasikan laptop dan akses internet gratis di rumah belajar. Bahkan yang sangat special rumah belajar ini pernah mendapatkan kiriman buku dari  Najwa Shihab sebagai duta baca Indonesia.

Di samping mendirikan rumah belajar, Pak Khamdan juga menjadi relawan di daerah 3T dengan membuat proposal bantuan ke berbagi instansi negeri maupun swasta. menjalin kerjasama dengan Yayasan, kampus, komunitas, media online, perpustaakan daerah maupun nasional. Bantuan-bantuan dari berbagai instansi termasuk lembaga sosial lainnya selanjutnya  didistribusikan ke sekolah-sekolah berupa flashdisk vidio pembelajaran, seragam sekolah, buku bacaan, alat tulis.

Tidak hanya untuk kebutuhan sekolah, banyak juga bantuan berupa mukena, al Quran, Iqro, buku, karpet, yang selanjutnya didisribusikan ke masjid. Di samping itu Pak Khamdan bersama donator  membuat dua sumber mata air dan 4 bak penampung air untuk warga sekitar yang kekurangan air di daerah 3T.

Mengabdi di daerah 3T membutuhkan 2 syarat utama yaitu harus ikhlas dan pastinya sabar. Di daerah 3T sinyal susah kadang blank sinyal 3 hari, kita bisa bayangkan 3 hari tanpa HP, berat bukan?

Persolan inilah yang dihadapi Pak Khamdan, sebagai solusi beliau menginisiasi sekolah berbasis digital seperti: Computer Based Tes offline dan pemilihan ketua OSIS offline merupakan pertama kali dilaksanakan di sekolah-sekolah yang ada di kabupaten Manggarai Timur, cara kerja ini digital akan tetapi tanpa menggunakan sinyal dan kartu perdana, selain itu dibuat  juga kelompok belajar mini di setiap kampung.

Ketika menemukan persoalan-persolan di daerah 3T Pak Khamdan biasanya mencatat persoalan tersebut, kemudian pada malam harinya beliau baca sambil  mencari solusi dengan inovasi-inovasi yang bisa dilakukan.

Memberikan perubahan di masyarakat membutuhkan waktu dan proses yang lama, tidak semudah mengedipkan mata. Harus dilakukan secara konsisten, istiqomah.  Secara perlahan kita sodorkan program yang bisa memberi manfaat untuk mereka. Umumnya masyarakat akan antusias dengan hal baru, terlebih lagi masyarakat yang berada di daerah pedalaman, kedatangan kita sangat diharapkan, karena mereka sadar bahwa kita akan membawa perubahan ke arah lebih baik..

Anak-anak di daerah 3T juga bagian dari kita, jadi kita juga harus merasa bahwa mereka harus mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang cukup, sehingga kita berharap dan tentunya dengan ikhtiar yang kuat agar anak-anak di daerah 3T dapat mengejar ketertinggalan dengan pengabdian yang tulus dari guru-guru yang ditugaskan di daerah 3T.

Semoga Pak Khamdan selalu menjadi pelita yang akan menyinari daerah di “Sudut Yang Paling Timur Indonesia” dan tentunya selalu menginspirasi para pendidik untuk berikhtiar seoptimal mungkin menebar manfaat. Guru tidak hanya mengajar tetapi juga bisa berkontribusi bagi lingkungan sekitar yang membutuhkan.

TIPS MENCARI IDE MENULIS (Pertemuan ke 13)

Menu perkuliahan online malam ini Rabu 3 Pebruari 2021 disuguhkan oleh narsumber hebat Bapak Agus Sampurno yang bertemakan “Ide Menulis”. Saat ini narasumber menjabat sebagai Education specialist sekaligus Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako Sulawesi Selatan. Sebelumnya dari tahun 2015- sampai Oktober 2020 beliau adalah Konsultan sekolah dan project leader pada Putera Sampoerna Foundation School Development Outreach Jakarta. (Tahun 2018) menjadi Master Trainer Sertifikasi BNSP.

Narasumber malam ini memiliki pengalaman mengelola sekolah menjadi Kepala sekolah Ananda Islamic School Jakarta Barat setelah sebelumnya selema 13 tahun  menjadi guru dan Koordinator kurikulum di Global Jaya International School Jakarta. Penghargaan yang pernah diraih adalah pada tahun 2009 sebagai Bloger Pendidikan terbaik Detik.com, menjadi guru Microsoft Indonesia Innovative Educators pada tahun 2010.

Untuk mengulas lebih jauh terkait “Ide Menulis”, setidaknya kita harus memahami beberapa prinsip dasar yaitu:

PERTAMA,  90% ide tulisan muncul ketika Anda tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan mengenai tulisan anda. 10% keberhasilan menulis baru mengenai seberapa anda konsisten dalam menulis. KEDUA,  Menulislah dengan hati, mengeditlah dengan pikiran; KETIGA, Hambatan penulis terjadi ketika kita terlalu menghakimi diri sendiri saat mulai menulis; KEEMPAT,  Mengedit sebuah tulisan adalah sebuah upaya pembersihan dan akan terasa membosankan serta bisa juga membuat frustrasi, tetapi juga bersifat terapeutik atau hal yang baik bagi kegiatan menulis anda. Mengedit seperti yang sering kita lakukan dalam kehidupan kita. Buang jauh yang tak perlu. Utamakan yang inti; KELIMA, Tiga prinsip dalam menulis. 1) Sederhanakan pesan Anda. 2) Buatlah tulisan Anda menyenangkan, menakutkan, menegangkan, atau mendidik.3) Buatlah tulisan Anda begitu menarik sehingga seseorang pasti sudah gila untuk tidak membacanya.

KEENAM. "Menulis dengan baik berarti berpikir dengan baik. Jika Anda tidak dapat menulis dengan baik, itu berarti Anda tidak dapat berpikir dengan baik; KETUJUH,  Tulisan awal Anda akan seperti air kotor, tetapi semakin banyak Anda menulis, semakin bersih “air kreatif” Anda; KEDELAPAN,  Pisahkan kegiatan antara mencari ide dan menulis. Carilah ide dan buatlah daftar. Baru kemudian ambil stu persatu untuk anda tuliskan; KESEMBILAN, Kegiatan mengedit tulisan sama pentingnya dengan menulis itu sendiri. Jika anda membaca tulisan di blog yang 'mentah' itu berarti nafsu si penulis hanya menerbitkan (posting) dan bukan mempersembahkan buah pikiran nya yang terbaik;  KESEPULUH, Membuat sebuah judul tulisan adalah sebuah seni tersendiri. Teruslah berlatih; KESEBELAS, konsisten lah dalam menulis, anda akan menemukan diri anda sebagai penulis saat anda konsisten; KEDUABELAS, jangan pernah berpikir untuk punya ide anda sendiri. lakukan ATM terus menerus amati tiru dan modifikasi. Penyakit seorang penulis adalah memaksa dirinya keluarkan hal yang asli produk dari dirinya. akibatnya ia malah tidak pernah menulis; KETIGABELAS,  bagaimana menjadi sosok yang berbeda di internet?cari keunikan anda, pelajari sebuah hal yang akan jadi brand anda, jika sudah punya brand lanjutkan dengan mengajarkan orang lain.

Menu perkuliahan malam ini cukup membangkitkan selera, hal ini terlihat dari kegelisahan para peserta hebat yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. Di antara pertanyaan yang muncul misalnya adalah cara mengelola hati supaya tak merasa kecewa berkepanjangan ketika karya tulis tidak dihiraukan oleh orang lain. Dilihat tidak, apalagi sampai dibaca dan diberikan komentar.

Persoalan ini lumrah terjadi, dan ini sebagai sebuah ujian mental sekuat apa mental yang kita persiapkan untuk menjadi seorang penulis. Ada dua perspektif dalam hal berkarya, PERTAMA dilihat dari penulis. Bagi seorang penulis yang akan menjadi sorotan adalah yang buruk dan inilah yang pada akhirnya membuat si penulis kecewa. KEDUA adalah dilihat dari konsumen yaitu para pembaca. Pembaca akan selalu mengingat sisi bagusnya sebuah karya. Karena itulah kemudian sebagai seorang penulis sejatinya kita memposisikan diri layaknya sebagai konsumen yang akan menikmati sebuah karya sehingga kita akan selalu berpikir positif terhadap karya yang kita hasilkan. Kita harus bersikap masa bodoh dengan  karya kita yang tidak dilirik orang, teruslah berkarya karena boleh jadi suatu saat karya tersebut menjadi karya yang fenomenal.

Hal yang mesti dihindari adalah ketika kita menulis sesuatu yang merupakan ungkapan jiwa sendiri kemudian justru kita menuntut pembaca untuk memberikan respons positif terhadap karya tersebut. Penilaian sepenuhnya hak pembaca, jika mereka menikmati dan mendapat fanfaat dari karya kita sudah dipastikan mereka akan memberi respon positif. Secara secara manusiawi orang hanya memperhatikan sesuatu yang menguntungkan atau berguna bagi dirinya. Bukan berarti sebuah ungkapan jiwa tidak akan bisa dihargai.

Dalam menulis kita jangan pernah berpikir untuk punya ide sendiri. Sebuah karya tidak muncul murni dan alami tanpa pernah bersinggungan dengan karya lain yang serupa, maka kita harus menerapkan rumus ATM terus menerus, amati, tiru lalu modifikasi. Penyakit seorang penulis adalah memaksa dirinya keluarkan hal yang asli produk dari dirinya. akibatnya ia malah tidak pernah menulis.

Dalam menerapkan rumus ATM bukan berarti selanjutnya seorang penulis tidak memiliki kekhasan. Ada istilah 'nothing new under the sun's artinya di dunia ini sebenarnya tidak ada yang sama sekali baru. Lalu apa langkah kita selanjutnya? temukan siapa penulis yang kita sukai. Pelajari, telusuri jejak penulis tersebut lalu modifikasi konsepnya. Semakin sering kita melakukan riset, maka secara tersendiri kita pada akhirnya nanti akan melahirkan kekhasan kita sendiri.

ATM adalah cara untuk seorang penulis menyusun tenaga agar bisa konsisten kemudian punya gayanya sendiri. Bagaimana cara menemukan brand unik dari karya kita? Brand adalah hal yang kita sukai dan dengan senang hati akan kita ajarkan kepada orang lain. Dalam menulis brand bisa berarti sebuah cara orang tertarik pada sebuah tulisan. Brand membuat orang punya julukan dan citra yang melekat.

Di samping brand, ketertarikan pembaca dipicu juga dengan sebuah judul. Membuat judul berarti memunculkan sesuatu pernyataan yang membuat orang tertarik. Setidaknya ada 5 teknik pembuatan judul yang harus kita pahami (5 Persuasive Words That Controls Minds) yaitu: 1. You, 2. Free, 3. New, 4. Now 5. Secret. Kelima elemen ini harus terepresentasi dalam sebuah judul yaitu anda, Bebas atau gratis, Baru atau terkini, Sekarang, dan Rahasia. Salah satu contoh judul yang menggambarkan rumusan  tersebut adalah:

“Tips bagi anda, guru kreatif dalam menaklukan kelas yang pasif selama PJJ (Anda)”

“Gratis untuk anda, resep membuat video pembelajaran yang memukau siswa (Gratis)”

“Aplikasi terkini pembelajaran jarak jauh (Terkini)”

“Temukan sekarang, 10 penyebab murid malas saat pembelajaran jarak jauh”

“Tujuh rahasia guru yang dirindukan siswanya saat PJJ (Rahasia)”

MOTIVASI MENULIS (Pertemuan ke 12)


Alhamdulillah kembali malam ini 29 Januari 2021 kita bersilaturrahmi di kelas maya “Belajar Menulis Gelombag 17”. Berharap semangat terus menemani agar kita tidak tergerus kejenuhan dan kesibukkan yang kemudian membuat aktivitas menulis menjadi terbengkalai.

Pertemuan ke 12 ini kita akan ditemani oleh seorang narasumber hebat yang berasal dari Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan. Jauh-jauh dari Sulawesi Selatan, beliau menyempatkan diri untuk silaturrahmi dan berbagi pengalaman pada malam ini. Kecanggihan teknologi membuat Tana Toraja menjadi semakin dekat

Narasumber kita malam ini adalah Pak Yulius Roma Patandean, S.Pd seorang guru yang mengajar Bahasa Inggris di SMAN 5 Tana Toraja. Beliau kelahiran 6 Juli 1988 dan merupakan salah satu alumni kelas belajar menulis gelombang 8, yang bukunya sudah tembus 2 kali ke penerbit mayor.

Buku Digital Transformation telah diterbitkan oleh Penerbit ANDI dan menyusul Buku berjudul Flipped Classroom yang akan diterbitkan juga oleh Penerbit ANDI. Kedua buku ini adalah tulisan kolaborasi Pak Yulius dengan Prof. Richardus Eko Indrajit. Buku Guru Menulis Guru Berkarya adalah buku kumpulan resume Pelatihan Belajar Menulis gelombang 8. Sementara Buku Tetesan Di Ujung Pena adalah buku kumpulan puisi yang ditulis di bulan September-Desember 2020.

Pada prinsipnya kita sesungguhnya memiliki dua modal dasar dalam mendokumentasikan karya tulis yaitu ide dan pengalaman. Kedua modal ini tidak akan bermanfaat jika kemudian tidak kita olah dan kembangkan menjadi sebuah karya tulis yang bermanfaat. Hal ini sesungguhnya mudah dilakukan karena kita semua memiliki potensi dalam menulis.

Untuk menggali potensi menulis tersebut, langkah awal yang perlu kita lakukan adalah dengan berlatih dan terus berlatih menulis. Salah satu yang paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat resume dari materi perkuliahan online “Belajar Menulis” yang diinisiasi oleh Omjay dkk. Resume ini akan melatih keistiqomahan kita menulis, mengasah otak untuk berpikir memunculkan ide-ide kreatif yang selanjutnya dituangkan dalam tulisan. Resume ini menjadi sangat mudah karena kontennya sudah ada, tinggal kita berinovasi melakukan tambal-sulam agar rangkaian kata-katanya mudah dicerna.

Menulislah tanpa beban, seperti air yang mengalir dari ketinggian, di mana ia akan berhenti di tempat yang datar untuk menjadi satu kumpulan yang besar. Demikianlah kata demi kata yang kita tuliskan, sedikit demi sedikit, pada akhirnya akan terkumpul menjadi naskah yang bisa dibukukan.

(Yulius Roma Patandean)

Sebuah buku berdasarkan format yang ditetapkan UNESCO minimal berisi 40 halaman, jika kita menulis minimal 20 resume dengan jumlah 5 halaman pada setiap resumenya sebagaimana program pelatihan “Belajar Menulis” ini kita bisa selesaikan dengan  baik, maka dengan ukuran kertas A5 akan menghasilkan buku dengan jumlah 100 halaman.

Sebagai ikhtiar kita untuk membangun motivasi dalam menulis, kita harus selalu berbagi agar tulisan tersebut memberi manfaat untuk orang lain. Ketika tulisan mendatangkan kebermanfaatan untuk orang lain maka rasa percaya diri kita akan terbangun dan secara otomatis akan membangkitkan motivasi kita untuk menulis dan terus menulis. Kita bisa berbagi melalui blog, WA Grup sekolah, menulis artikel di laman guruberbagi.kemdikbud.go.id, atau bisa juga yang paling sederhana melalui KKG dan MGMP.

Di samping itu berbagi untuk membangkitkan motivasi menulis bisa kita lakukan dengan mengajak rekan-rekan guru di sekolah agar mau menulis. Untuk memprofokasi mereka menulis kita harus menyiapkan bukti karya yang sudah kita terbitkan. Dengan demikian strategi ini bisa memotivasi mereka untuk menulis. Jika ada guru yang berminat tinggal kita arahkan sesuai dengan minatnya, misalkan jika guru Bahasa Indonesia kita bisa mengarahkannya menulis puisi untuk kemudian dikumpulkan dalam satu naskah dan selanjutnya diterbitkan menjadi sebuah buku. Jika guru Pendidikan Agama Islam misalnya, bisa kita arahkan untuk membuat naskah khutbah yang kemudian bisa kita kumpulkan dan terbitkan menjadi sebuah buku kumpulan khutbah.

Strategi ini seperti yang dikatakan Bapak Yulius adalah yang paling sederhana. Sehingga beliau pernah mengajak rekan-rekan guru membuat karya puisi. Setelah dua bulan berjalan akhirnya terkumpul 71 puisi yang siap dibukukan dengan judul buku Merajut Asa di Badai Korona

Ikhtiar berbagi yang kita lakukan ini sebagai jawaban bahwa menerbitkan buku itu sangatlah  mudah. Sebab sering kali kita berpikir bahwa menerbitkan buku adalah sangat sulit, terlebih lagi jika kita hanya seorang guru yang tidak dituntut membuat sebuah karya tulis, beda halnya dengan dosen yang mana menulis menjadi sebuah kewajiban. Maka dari sini kemudian kebanyakan kita berpikir jika menulis sangatlah sulit, harus ilmiah, dan bahkan harus mengerutkan dahi untuk berpikir dalam. Namun ternyata menulis pada prinsipnya sangatlah mudah, kita bisa menulis hal-hal yang paling sederhana yang bisa kita temukan di sekitar dan yang paling penting dari semua itu adalah bahwa kita bisa melakukannya.

Banyak imbasan yang muncul ketika kita berhasil menerbitkan sebuah karya tulis, terlebih lagi bagi guru-guru yang berstatus PNS yang mana karya tulis ini sangat diperlukan pada saat kenaikan pangkat. Dengan demikian kita yang menjadi guru PNS setidaknya bisa menjadi motivator yang akan memotivasi rekan-rekan guru lainnya untuk membangkitkan semangat untuk menulis. Terlebih bagi guru-guru PNS yang ada di grup menulis PGRI ini, mari kita menjadi pionir untuk mengkampanyekan naik pangkat secara bermartabat melalui karya tulis yang ber-ISBN.

Resume dari materi yang disampaikan narasumber pada perkuliahan online “Belajar Menulis” bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan kenaikan pangkat bagi rekan-rekan guru. Buku kumpulan resume adalah buku yang berisi juga tentang pendidikan, yakni metode penulisan, motivasi tentang belajar, strategi menulis dan sebagainya. Bahkan kita bisa mendesain buku kumpulan resume ini menjadi lebih mengarah pada pendidikan untuk selanjutnya kita terbitkan untuk kebutuhan kenaikan pangkat. Buku dalam bidang pendidikan yang dicetak oleh penerbit dan ber-ISBN, nilainya 3. Sementara buku yang dicetak oleh penerbit namun  tidak ber-ISBN nilainya 1,5.

DISIPLIN DALAM MENULIS (Pertemuan ke 28)

Perkuliahan “Belajar Menulis” kali ini Senin 8 Maret 2021 disajikan oleh narasumber hebat yaitu Ibu Tini. Nama lengkap beliau Tini Sumartini kelahiran Bandung 13 Juni 1968. Beliau termasuk pemula dalam menulis namun karyanya seperti penulis professional. Detail profil beliau bisa diakses di https://ambuguru.blogspot.com/2021/01/biodataku.html

Di awal pemaparannya, Ibu Tini menjelaskan bahwa sebenarnya beliau  terlambat jatuh cinta pada dunia literasi karena beliau baru mulai belajar menulis pada usia di atas 50 tahun. Namun prinsip yang selalu dijadikan motto adalah  'never too old to learn, dengan demikian usia sesungguhnya hanyalah persoalan waktu. Pada usia berapapun kita belajar selama ikhtiar itu dilakukan dengan sepenuh hati, maka sudah pasti kita akan menuai hasil yang maksimal.

Dalam menulis kita harus bisa membangun motivasi yang kuat, kita harus bisa berekspektasi yang tinggi untuk menerbitkan buku. Jika seorang PNS kita bisa menjadikan menulis sebagai sebuah motivasi untuk pengajuan kenaikan pangkat.  Dengan demikian, meciptakan sebuah ekspektasi sedari awal akan menjadi sebuah “cambuk” yang selanjutnya akan selalu mengontrol kita untuk mewujudkan target yang telah ditetapkan. Sebagai penulis pemula hal inilah yang harus kita lakukan karena kuncinya tiada lain adalah disiplin diri.

Lalu apa saja tips dalam membangun kedispilinan diri agar bisa konsisten menulis? Berkut ini tips yang bisa diaplikasikan:

PERTAMA, Mulai bergabung dengan komunitas bloger. Hal ini perlu dilakukan sebagai ikhtiar awal membangun budaya menulis. Budaya ini adalah hal utama yang harus dibentuk terlebih lagi kita sebagai seorang penulis pemula

Dengan bergabung di komunitas blogger setidaknya menjadi sebuah proses membangun budaya menulis, budaya tidak bisa tercipta begitu saja namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika tergabung dalam komunitas blogger rutinitas menulis kita akan terjaga, sebab akan banyak tantangan yang akan disuguhkan oleh komunitas tersebut untuk memicu kita mau dan terus menulis dan menulis.

KEDUA, Meluangkan waktu untuk menulis. Meluangkan waktu menulis artinya kita harus mampu menciptakan waktu tesendiri untuk menulis, bukan menunggu ada waktu baru kemudian menulis. Jangan mencari waktu luang, tetapi ciptakan waktu luang. Mari ita investasikan waktu yang kita miliki untuk membangun budaya menulis yang nantinya menjadi karya abadi yang akan kita wariskan ke anak cucu.

KETIGA,  Menetapkan target. Target ini adalah trik paling jitu  untuk membunuh rasa malas. Target ini akan menjadi seacam “cambuk” atau “alarm” yang nantinya akan mengingatkan kita ketika rasa malas menggerogoti.

KEEMPAT, Memperbanyak membaca. Membaca adalah kunci utama menggapai kesuksesan. Akan banyak manfaat yang kita peroleh dari membaca karena itulah dalam ajaran agama (baca:Islam) wayu yang pertama kali diturunkan adalah yang berkaitan dengan membaca. Membaca apa saja, baik yang berupa teks maupun non teks.

Dengan membaca kita bisa menambah kekayaan dari kontens tulisan karena dengan membaca secara otomatis akan menambah perbendaharaan kosa kata, menambah istilah-istilah. Di samping itu dengan membaca kita bisa memicu munculnya ide dalam menulis.  

KELIMA, Melakukan blog walking. Blog walking atau silaturrahmi ke blog orang juga menjadi tips hebat yang bisa kita terapkan dalam membangun kedisiplinan menulis. Dengan melakukan silaturrahmi ke banyak blog akan  menambah wawasan pengetahuan dari posting-an orang lain.

Silaturrahmi ke blog harus disertai dengan memberi komentar, saran-saran yang membangun.  Memberi komentar untuk penulis pada blog akan menjadi semacam motivasi bagi penulis karena  merasa dihargai sehingga mereka akan terus berkarya. Karena kita juga penulis, suatu saat kita pun akan mengalami rasa senang ketika ada orang lain yang mengapresiasi karya kita.