Artikel

Selasa, 02 Februari 2021

MENELUSURI JEJAK PERJALANAN SANG GURU: TGH. MUSTHOFA UMAR ABDUL AZIZ (Bagian 1)

TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz adalah tokoh ulama kharismatik di Pulau Lombok yang secara genitas berasal dari garis keturunan “Tuan Guru” (baca: gelar ulama di Pulau Lombok). TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz dilahirkan di Dusun Kapek Desa Gunungsari Kabupaten Lombok Barat NTB pada bulan Dzul Hijjah tahun 1352 H atau 1931 M dari pernikahan TGH. Umar Abdul Aziz – yang lebih akrab dengan panggilan “Niniq Umar”– dengan seorang wanita bernama Hj. Jamilah. TGH. Umar Abdul Aziz adalah tokoh ulama di Pulau Lombok yang memiliki kontribusi cukup signifikan dalam pengembangan dakwah Islam, banyak masyarakat yang datang untuk berdiskusi dan mengkaji kitab-kitab mu’tabarah dengan beliau.


TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz adalah putra ke 3 dari TGH. Umar Abdul Aziz, beliau bersaudara sebanyak 10 orang termasuk beliau dan di  antara saudara-saudara beliau adalah Hj. Marhamah, TGH. Muhammad Sasaki, Hj. Fatmah, Hj. Husniah, TGH. Marzuki Umar, TGH. Jalaludin, Hj. Aminah, Hj. Jurmiah, dan Hj. Fatla'ah. Salah satu saudara beliau yaitu Muhammad Sasaki juga adalah seorang Ulama sekaligus Umara. TGH. Muhammad Sasaki adalah pimpinan Pondok Pesanten Addin al Qoyim yang terletak di Dusun Kapek.

Sejak usia dini TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz mendapat perhatian yang cukup intens dalam persoalan pendidikan agama. TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz memiliki postur tubuh yang agak kecil namun beliau tergolong anak yang cerdas. Beliau selalu ikut serta dalam pengajian yang digelar orang tuanya, sehingga TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz sangat familiar dengan teks-teks kitab yang dikaji.

TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz terlahir dari keluarga yang kurang mampu, ayah beliau hanya seorang buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan karena harus bergantung pada hasil tani yang diperoleh, dan hasil tani yang diperoleh itu pun tidak diterima dengan penuh karena harus dibagi dengan pemilik tanah sementara ibu beliau berprofesi sebagai pedagang kue yang tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi keluarga yang sangat sederhana ini terkadang menjadi bahan ejekkan teman-teman sebaya TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz. Walaupun demikian, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz cukup beruntung karena beliau dapat menikmati manisnya belajar di bangku sekolah, dimana ketika itu beliau tercatat sebagai siswa di Sekolah Rakyat tepatnya pada tahun 1942.


Ketika sekolah, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz mengenakan baju kasar dengan tambalan jahitan di sana sini bahkan menulis tidak menggunakan buku tulis melainkan menggunakan papan tulis kecil atau yang biasa disebut dengan “sabak”, sehingga setelah jam pelajaran berakhir beliau sibuk menghafal materi yang baru dipelajarinya kemudian beliau hapus untuk pelajaran berikutnya. Tidak hanya itu, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz harus selalu bersabar karena tidak ada bekal (sangu) yang bisa dibawa saat berangkat ke sekolah. Kondisi keluarga yang serba kekurangan ini tidak lantas membuat
semangat belajar TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz memudar, bahkan TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz terkenal sebagai siswa yang berprestasi. Namun indahnya masa-masa di sekolah hanya dinikmati selama 2 tahun saja karena setelah itu beliau harus berhenti sekolah disebabkan tidak ada biaya.

Setelah tidak lagi menjadi siswa di Sekolah Rakyat, TGKH. Musthofa Umar Abdul Aziz dididik oleh orang tuanya di rumah dengan memperdalam ilmu agama sembari membantu ayahnya bekerja di sawah dan terkadang membantu ibunya berjualan kue, dan kondisi ini berlangsung kurang lebih selama 5 tahun karena setelah itu beliau kembali menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Pancor Kabupaten Lombok Timur di bawah bimbingan TGKH. M. Zainudin Abdul Madjid. (Bersambung)

Senin, 01 Februari 2021

SEORANG PENULIS HARUS BERMENTAL BAJA (Pertemuan ke 9)

Mengawali coretan di blog malam ini Jum’at 22 Januari 2021 tidak lupa kita berucap syukur kepada Allah SWT yang sampai detik ini masih memberikan kesempatan untuk ikut bergabung dalam perkuliahan ke 9 “Pelatihan Belajar Menulis” besutan Omjay dan tim hebat. Tidak terasa hampir setengah perjalanan terlewati, namun tidak mudah untuk melewati semua ini karena terkadang kesibukan, kejenuhan, menjadi bagian yang seolah selalu menghampiri.

Menu perkuliahan malam ini disuguhkan oleh seorang nara sumber hebat, seorang penulis muda yang sangat menginspirasi saya, beliau adalah Ditta Widya Utami. Dengan kepiawaiannya menyelaraskan hati, pikiran dan jemari, beliau sukses menghasilkan banyak karya yang sudah pasti kualitasnya tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi, hebat bukan?

Menu yang disuguhkan malam ini cukup unik dan sangat berbeda dengan menu-menu yang disuguhkan oleh narasumber-narasumber hebat sebelumnya. Menu yang disuguhkan kali ini adalah “Mental Seorang Penulis”. Membaca tema malam ini saya sedikit berpikir, mencoba menelusuri apa sih pesan yang ingin disampaikan nara sumber. Setelah mengkerutkan dahi sejenak saya baru menyadari bahwa ternyata seorang penulis harus memiliki mental sekuat baja, seorang penulis tidak cukup dengan pengetahuan dan keterampilan menulis saja.

Di awal penyampaiannya, nara sumber mengatakan bahwa untuk menjadi seorang penulis andal, selain mengetahui teknik menulis, seorang penulis harus memiliki mental yang kuat dan sehat. Nara sumber selanjutnya mengatakan jika kita membaca kisah beberapa penulis tersohor baik di dalam maupun di luar negeri, ternyata banyak yang harus jatuh bangun ketika memulai karirnya sebagai seorang penulis. Namun, karena mereka memiliki mental yang kuat, mereka bisa bangkit kembali dan akhirnya meraih kesuksesan. Mental yang dimaksud adalah lebih kepada sebuah cara berpikir untuk dapat belajar dan merespons suatu hal. Sebagaimana yang dilakukan para penulis hebat dalam menghadapi setiap tantangan.

Untuk menjadi seorang penulis bermental baja, berikut dipaparkan 5 nasehat penting yang bisa diramu dari nara sumber malam ini

PERTAMA, Siap Konsisten. Konsisten dalam bahasa agama sering disebut dengan istiqomah. Konsep istiqomah ini menjadi semacam slogan motivasi yang selalu dikampanyekan Omjay: "Teruslah menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat yang selalu dikampanyekan Omjay ini bisa dijadikan semacam bekal bagi seorang pemula untuk mulai melangkah menjadi seorang penulis. Jika kita sudah berniat untuk meningkatkan skill menulis, maka kita harus ingat bahwa menulis adalah sebuah kata kerja yang tentunya harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

Pada prinsipnya menulis itu mudah, sehingga banyak orang yang melalui catatan-catatan harian bisa menghasilkan sebuah karya, kita sebut saja misalnya Soe Hoek Gie, dari buku catatan kemudian lahir sebuah buku atau RA Kartini dari surat-suratnya juga lahir sebuah buku. Namun untuk jadi penulis andal kita tidak cukup dengan bermodal kompetensi dan keahlian saja, akan tetapi kita harus menyiapkan mental sekuat baja, hal ini dibutuhkan agar kita bisa selalu konsisten menulis. Salah satu tips agar bisa memiliki mental untuk konsisten adalah dengan mengenali diri sendiri. Sehingga tantangan apa pun yang kita hadapi, kita sudah memahami langkah yang tepat untuk mengatasinya.

KEDUA Siap Dikritik. Tidak semua orang siap dengan kata “dikritik”. Banyak mungkin diantara kita lebih pandai “mengkritik” namun tidak pandai untuk menerima kritikan. Saat kita memutuskan untuk memublikasikan hasil tulisan kita di blog, buku, media social, atau pun media massa,  maka penting kita sadari bahwa tulisan kita telah menjadi "milik publik". Dengan demikian, kita harus menyiapkan mental untuk menerima masukan dari publik. Tidak hanya bersiap untuk komentar baik, kita pun harus bersiap bila ternyata ada yang mengkritik dengan cukup tajam atas tulisan kita. Dengan adanya masukan atau kritik dari berbagai pihak, kita bisa mengetahui kekurangan dalam tulisan kita. Bukan hanya dari kacamata sendiri, tapi juga dari kacamata pembaca. Dengan demikian, kritikan ini akan menjadi langkah awal bagi kita untuk melahirkan sebuah tulisan yang berkualitas.

KETIGA Siap Belajar. Selanjutnya jika kita sudah memiliki dua modal di atas, baik itu konsistensi maupun kesiapan menerima kritikan, maka mental kita sebagai seorang penulis sudah mulai terlihat. Dari sini kemudian kita bisa melangkah lagi untuk terus meningkatkan kualitas tulisan dengan cara melakukan dua hal yaitu: (a). Melakukan riset. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tulisan adalah dengan melakukan riset. Bisa dengan berkunjung ke perpustakaan, berkunjung ke toko buku untuk mengamati buku-buku best seller, melacak apa yang sedang menjadi trend di sosial media maupun dengan google traffic; (b). menambah  bacaan. Saat ini, dimana literasi begitu digaungkan, maka kita harus menyiapkan mental untuk siap menjadi orang yang literat. Salah satunya dengan meningkatkan daya baca.

KEEMPAT Siap Ditolak. Mental berikutnya yang harus dibangun adalah kesiapan untuk ditolak oleh media maupun penerbit. Saat naskah kita ditolak, coba lagi dan lagi. Atau cari alternatif lain. Misal dengan menerbitkan sendiri atau dipublish di berbagai media sosial. JK Rowling pernah ditolak belasan penerbit. Dewi "Dee" Lestari sang penulis Supernova pun pernah merasakan ditolak penerbit. Bahkan sekelas novelis horor Stephen King pun pernah ditolak. Bayangkan, jika mereka berhenti berjuang saat ditolak penerbit satu dua kali, mungkin saat ini kita tidak akan mengenal karya karya hebat mereka.

KELIMA Siap Menjadi "Unik" The last but not least. Mental yang perlu kita bangun untuk menjadi penulis andal adalah just be yourself. Jadilah diri sendiri. Bangunlah semacam kekhasan atau keunikan yang nantinya akan menjadi karakter seorang penulis, karena dalam menulis kita tidak perlu terlalu ikut-ikutan seperti orang kebanyakan. Tulis saja apa yang paling kita sukai, yang paling sesuai dengan diri kita. Omjay misalnya selalu unik dengan tulisan setiap harinya. Mr. Bams unik dengan kalimat-kalimat positifnya. Dan Bu Kanjeng yang unik dengan gaya bahasanya yang begitu hidup. Coba kita berselancar ke blog atau buku Raditya Dika, isinya pasti humor. Jika membaca buku-buku Justin Gaarder (penulis Dunia Sophie), jangan heran jika terselip unsur filsafat. Karena basicnya beliau memang pernah jadi guru filsafat sebelum menjadi penulis. Nah, apa yang unik dalam diri kita? Mari kita tuangkan dalam bentuk tulisan.

Nah inilah taushiyah yang dipaparkan oleh nara sumber malam ini yang bisa saya ramu. Point penting yang diselipkan dalam pertemuan malam ini adalah bahwa seorang penulis harus memiliki mental sekuat baja untuk bisa menjadi penulis andal, karena keterampilan berupa teknis menulis tidaklah cukup menjadi bekal kita dalam menghasilkan karya-karya besar.

“Jadilah penulis jujur yang apa adanya dan ada apanya. Tidak dibuat-buat/dipaksakan (apa adanya) namun tetap berbobot (ada apanya) dan Teruslah berlatih menulis dan membaca”

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID DALAM WASIAT RENUNGAN MASA PENGALAMAN BARU

Degradasi moral yang melanda negeri ini merupakan persoalan penting yang menjadi tugas berat yang harus dipikul para praktisi pendidikan. Degradasi moral muncul sebagai akibat pudarnya karakter bangsa. Tergerusnya karakter tersebut dipicu karena terjadinya disorientasi pendidikan di mana pendidikan terjebak pada cognitive oriented yang selanjutnya mempertegas irelevansi antara aspek kognitif (pengetahuan) dengan karakter yang sejatinya dimiliki oleh peserta didik. Cognitive Oriented yang diharapkan menjadi basis kekuatan moral justru menjadi faktor munculnya degradasi moral. Dengan demikian diperlukan sebuah kajian yang lebih komprehensif terkait nilai-nilai karakter yang diharapkan dapat menjadi solusi dalam rangka mengatasi problem pendidikan tersebut.

Internalisasi nilai-nilai karakter atau pendidikan karakter bukanlah terminologi baru yang menjadi perbincangan para pakar pendidikan saat ini. Jika ditelusuri, geliat terminologi pendidikan karakter sesungguhnya telah lama mengakar dalam sejarah pendidikan itu sendiri. Pada abad ke 8 SM misalnya Homeros pernah menawarkan konsep pendidikan karakter dalam masyarakat Yunani kuno yang menekankan pertumbuhan individu secara utuh dengan mengembangkan potensi fisik dan moral. Pada abad ke 18, terminologi ini kemudian mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun perubahan sosial.

Di samping itu, tema-tema yang terkait nilai-nilai karakter (moralitas) pernah juga menjadi lahan garapan tokoh-tokoh Islam semisal Ibnu Mishkawaih. Ibnu Mishkawaih misalnya dengan doktrin “jalan tengah” dalam filsafat etikanya pernah mengemukakan bahwa perlu adanya sebuah keseimbangan dalam diri manusia yang  selanjutnya  menjadi pokok akhlak mulia seperti jujur, ikhlas, kasih sayang, hemat dan sebagainya. Nilai-nilai kejujuran, ikhlas, kasih sayang, hemat, tersebut merupakan karakter yang harus terintegrasi dalam proses pendidikan.

Dalam konteks lokal, ternyata persoalan ini pernah juga menjadi perhatian seorang tokoh karismatik masyarakat Lombok yaitu TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid selaku aktor pendiri Nahdlatul Wathan (NW) yang menjadi organisasi terbesar di NTB. TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid merupakan tokoh ulama di Pulau Lombok yang cukup concern dalam dunia pendidikan. Konsep-konsep pendidikan yang ditawarkan berbasis religious-Ethic. Gagasan ini terekam jelas dalam Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru. TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid berpandangan bahwa segala aktivitas hendaknya dibangun atas dasar prinsip iman dan taqwa. Karena itulah kemudian nilai-nilai pendidikan karakter yang dirumuskan berlandas tumpu pada nilai-nilai ilahiyah (religius). Nilai religius inilah yang selanjutnya menjadi embrio munculnya nilai-nilai karakter lainnya, baik domain nilai karakter yang berhubungan dengan individu maupun domain nilai karakter yang berhubungan dengan lingkungan sosial.

TGKH. M. Zainudin Abdul Madjid menggagas nilai-nilai pendidikan karakter dalam membangun karakter bangsa yang dikemas dalam syair-syair Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, yang kaya akan kandungan nilai-nilai pendidikan karakter. Dalam salah satu syairnya, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid misalnya mengungkapkan:

           Tata tertib perlukan ada     

Tutur bahasa perlu dijaga

Akhlak luhur tanda mulia

Bahasa menunjukkan bangsa

Syair  tersebut sesungguhnya mengandung pesan moral yang sangat tinggi serta nilai-nilai karakter yang begitu kuat. Jika dianalisa syair tersebut di atas mengandung nilai-nilai kedisiplinan, kesopanan, akhlak mulia, nasionalisme kebangsaan.Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru adalah salah satu di antara sekian banyak karya TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, karya ini belum begitu dikenal masyarakat umum, namun karya ini cukup populer di kalangan NW karena karya ini merupakan wasiat yang sengaja ditujukan secara khusus kepada warga Nahdlatul Wathan.

Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru merupakan sebuah karya yang terdiri dari kumpulan syair hasil renungan dan pengalaman hidup TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. Syair-syair dalam karya ini terdiri dari tiga bagian. Pada bagian yang pertama terdapat 233 syair yang ditujukan kepada seluruh warga NW, kemudian pada bagian yang kedua terdapat 112 syair yang mengandung pesan untuk selalu bersatu memperjuangkan NW dan bagian yang terakhir merupakan wasiat tambahan yang terdiri dari 88 syair.

Gagasan nilai-nilai pendidikan karakter TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru terpartisi dalam 13 nilai yaitu (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja Keras, (6) Mandiri, (7) Kreatif, Gemar Membaca dan Rasa Ingin Tahu, (8) Cinta Tanah Air dan Semangat Kebangsaan, (9) Menghargai Prestasi, (10) Bersahabat/komunikatif, (11) Cinta Damai, (12) Peduli Sosial, dan (13) Tanggung Jawab.

Nilai-nilai pendidikan karakter yang ditawarkan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid memiliki relevansi yang kuat terhadap pendidikan di Indonesia yang saat ini dihadapkan pada persoalan degradasi moral. Degradasi moral ini nampaknya dipicu oleh orientasi pendidikan yang terjebak pada cognitive oriented yang selanjutnya menumbuhsuburkan irelevansi antara ilmu dan akhlak. Sejalan dengan hal tersebut, maka pendidikan sejatinya tidak hanya terbatas pada transformasi ilmu pengetahuan yang menjurus pada peningkatan kemampuan intelektual semata, tetapi juga berorientasi pada internalisasi nilai-nilai moral.

Dengan merefleksikan gagasan nilai-nilai karakter TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, maka para aktor pendidikan sejatinya menjadikan pendidikan karakter sebagai skala prioritas pembangunan pendidikan di negeri ini. Gagasan nilai karakter yang ditawarkan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru memiliki relevansi yang cukup kuat dalam konteks pendidikan Indonesia. Relevansi tersebut terekam jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang menegaskan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia. Kedua kata kunci ini tentu saja sangat relevan dengan nilai religius yang menjurus pada ikhtiar untuk membangun sinergitas tiga ranah, kognitif-afektif-psikomotorik sebagai langkah dalam mendobrak irrelevansi antara ilmu dan akhlak (moralitas) siswa.

Selasa, 26 Januari 2021

MERACIK TULISAN MENJADI BUKU ALA CAK ININ (Pertemuan ke 8)

Tidak terasa hari ini kita memasuki pertemuan ke 8,  Mari kita bersyukur selalu karena masih diberikan kesempatan pada malam ini 20 Januari 2021 untuk mengikuti kegiatan belajar menulis bersama orang-orang hebat dan nara sumber hebat.

Menu pertemuan kali ini disuguhkan oleh seorang nara sumber hebat, beliau adalah bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd. beliau terlahir di Jombang 6 Juli 1965. Beliau sehari hari adalah seorang pendidik di SMP 1 Kedungpring Lamongan sejak 1989 sampai sekarang, waktu yang sangat lama bukan?. Di samping seorang pendidik, beliau juga adalah seorang konsultan Umroh dan Haji Plus dan yang tidak kalah pentingnya adalah beliau seorang penulis handal yang karyanya sudah tidak bisa diragukan lagi.

Sebagai motivasi untuk saya pribadi, saya ingin mengutip salah satu motto nara sumber malam ini, Man Jadda Wa Jada”. Motto ini jika kita analisa memiliki makna yang sangat luar biasa, mampu melahirkan semacam kekuatan yang akan memacu dan memicu semangat kita untuk mencapai suatu tujuan, “barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan”. Motto ini sangat relevan sebagai sebuah motivasi bagi kita yang saat ini lagi berjuang mengikuti kegiatan belajar menulis sebagai ikhtiar untuk membumikan literasi.

Cak Inin di awal penyampaian materi mengemukakan bahwa dalam menerbitkan buku seorang penulis pemula setidaknya memperhatikan 4 hal penting yaitu:

PERTAMA, Diperlukan sebuah keberanian dan tekad yang kuat untuk mempublikasikan tulisan dengan satu niat yaitu berbagi pengalaman. Tanpa niat yang kuat keinginan menerbitkan buku hanya akan sebatas keinginan. Menulis bukanlah sebuah bakat namun sebuah usaha yang didorong dengan kekuatan niat yang tulus di samping terus mengasah kompetensi untuk berlatih menulis.

KEDUA, mendesain ulang mindset kita bahwa “menulis itu mudah”. Jika pola pikir sudah terbentuk bahwa menulis itu mudah, maka secara otomatis akan menggerakan seluruh indra secara bersamaan melahirkan sebuah karya tulis yang melibatkan hati, rasa, jemari dan seluruh indra yang ada. Sugesti yang positif akan melahirkan aksi yang positif demikian pula sebaliknya. Cak Inin mengatakan bahwa “Menulis itu semudah bicara”. Anda bicara lalu rekam dengan handphone (Writter plus atau  Color Note) lalu edit maka jadilah tulisan. Karena itulah kemudian Cak Inin menyarankan kita untuk menulis apa saja  yang kita dengar, kita lihat, kita baca dan kita rasakan.

KETIGA Kenali potensi diri, apakah kita suka menulis buku bisnis,  agama, pendidikan, atau fiksi seperti novel, cepen, puisi dan sebagainya. Dengan mengenali potensi diri maka akan mempermudah kita dalam menulis. Namun tentu saja potensi ini tidak akan bermakna jika tidak dilatih secara terus menerus, karena itu kita harus terus berlatih menulis dan menulis.

KEEMPAT Banyak membaca. Kompetensi menjadi seorang penulis bisa didapatkan dari berbagai macam cara, bisa melalui pengalaman atau pengetahuan dengan banyak membaca buku. Dengan kedua hal ini maka karya yang kita tulis bisa lebih kaya dan menarik.

Tentu tidak semua dari kita memiliki waktu luang karena kita harus membaginya dengan profesi atau pekerjaan yang kita geluti, misalnya saya sebagai seorang guru yang harus disibukkan dengan kegiatan rutin d sekolah, mendesain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi sampai membuat tindak lanjut untuk program pembelajaran selanjutnya, karena itu kita harus pandai membagi waktu.

Dengan kesibukan tersebut, kita harus pandai “mencuri” waktu untuk mengumpulkan ide yang nantinya akan menjadi sebuah tulisan. Kita harus mampu untuk merekam setiap peristiwa atau kejadian yang ada di sekitar. Hal ini selanjutnya bisa dijadikan sebagai materi atau ide dalam mendesain sebuah karya tulis. Bagaimana cara melakukannya? Manfaatkan handphone kita untuk merekam peristiwa atau kejadian di sekitar lalu tulis point-point penting dengan menerapkan rumus 5W + 1H. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menulis di buku catatan atau langsung bicara dan direkam menggunakan handphone.

Di samping itu kita harus bisa menentukan waktu yang tepat untuk menulis karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang bisa menulis di waktu shubuh setiap selesai sholat dan ada juga yang merasa nyaman jika menulis sebelum tidur. Kembangakan pokok-pokok tulisan menjadi tulisan yang baik, enak dibaca dengan kalimat pendek, sederhana yang mudah dipahami dan gunakan istilah umum.

Selanjutnya tampilkan tulisan yang kita miliki dengan  gaya tersendiri (trade Mark), karena setiap orang tentu saja memiliki style dan gaya yang berbeda-beda. Kemudian hal penting yang perlu kita pahami adalah jangan membatasi jumlah halaman, mengalir saja, tulislah sebanyak-banyaknya. Jangan menulis sambil mengedit. Tulis saja sampai selesai baru kita edit sampai benar-benar bagus sesuai dengan EYD / EBBI. Kemudian selanjutnya kita harus mempelajari bagaimana buku itu diterbitkan.

Adapun langkah-langkah menyiapkan naskah tulisan untuk diterbitkan adalah: (a) menyiapkan cover buku; (b) membuat Judul yang menarik perhatian pembaca; (c) Apa saja yg harus dikirim ke penerbit dari naskah / tulisan kita menjadi buku; (d). Siapkan kata pengantar; (e) Daftar Pustaka; (f) Biodata penulis; (g) Sinopsis untuk cover buku bagian belakang yang berisi, inti dari isi buku,  kelebihan buku kita dan untuk promosi; (h) Semua jadikan 1 file kirim ke ke penerbit melalui email dan WhatsApp.

Mengenal Penerbit

Penerbit buku ada macam yaitu penerbit Mayor dan kedua penerbit Indhie. Apa perbedaanya?

1.  Perbedaan dari Jumlah Cetakan.  Penerbit mayor  mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku. Sementara Penerbit indie : hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dan sebagainya.

2.  Perbedaan dari Naskah yang Diterbitkan. Penerbit mayor naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum menerbitkan sebuah naskah. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan. Penerbit indie tidak menolak naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi, naskah tersebut pasti diterbitkan.

3.  Perbedaan dari profesionalitas. Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan Sumber Daya Manusia di perusahaan besar mereka. Penerbit indie pun profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah penerbitan. Kadang murah Cover kurang bagus, kertas dalam coklat kasar bukan bookpaper (kertas coklat halus).

4.  Perbedaan Waktu Penerbitan. Penerbit mayor pada umumnya sebuah naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui. Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit. Penerbit indie tentu berbeda, penerbit akan segera memproses naskah yang diterima dengan cepat. Dalam hitungan minggu sudah bisa terbit. Karena memang, penerbit tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini dan itu. Penerbit menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.

5.  Perbedaan dari Royalti. Penerbit mayor kebanyakan penerbit mayor mematok royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku. Penerbit indie umumnya 15-20%  dari harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis lewat facebook, Instagram, whatApp grup, Twitter, status, dan sebagainya

6. Perbedaan Biaya penerbitan. Penerbit mayor biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit. Penerbit indie berbayar sesuai dengan aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang  lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yang diterbitkan tidak sama.

Contoh penerbit mayor adalah Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Republika, Grasindo, Loka Media, Tiga Serangkai, Bentang Pustaka, Erlangga, Yudhistira,  Andi Yogyakarta dan lain sebagainya.

Mengenal penerbit Kamila Press Lamongan

Kamila Press Lamongan merupakan penerbit Indhei  yang melayani cetak buku , jasa lengkap dengan jasa desain cover buku,   Lay out,  editing dan ISBN. Jasa Penerbitan Kamila Press Lamongan dengan harga terjangkau.  Kamila Press Lamongan   melayani seluruh Indonesia. Dalam tahun 2020 sebagai penerbitan tahun perdana yang berjalan mulai  September sampai dengan Desember 2020 telah menerbitkan 20 buku para guru dari pulau Jawa, NTT, Kalimantan, dan Sumatera.

Syarat-syarat penerbitan di KAMILA PRESS LAMONGAN yaitu: (1) Kirimkan naskah lengkap mulai judul, kata pengantar, daftar isi, naskah lengkap sesuai urutan daftar isi, daftar pustaka, biodata penulis dengan foto dan Sinopsis; (2) Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf Arial, calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file kirim ke WA atau email gusmukminin@gmail.com. Selain mendapat fasilitas buatkan cover buku, layout, edit dan ISBN penulis juga dapat PO (Pre Order) buku / promo buku dengan harganya serta dapat sertifikat dari penerbit yang kerja sama dengan pencetakan.

Demikian paparan Cak Inin yang dapat saya ramu dan racik dari pertemuan malam ini. Jika ada yang kurang tentu ini menjadi peluang bagi bapak ibu pembaca untuk memberikan masukan agar resume ini menjadi lebih baik lagi. Mari terus bersemangat, menorehkan karya sebagai warisan untuk anak cucu.

Kamis, 21 Januari 2021

MEMBONGKAR RAHASIA MENJADI PENULIS PRODUKTIF (Pertemuan 7)

Alhamdulillah di pertemuan ke 7 ini Senin 18 Januari 2021 kita masih diberikan anugerah kesehatan sehingga masih bisa bersilaturrahmi di majlis “Belajar Menulis Gelombang 17”. Kita berharap pertemuan demi pertemuan bisa kita lalui dengan semangat. Semangat ini perlu kita rawat, jaga, dan pertahankan, sebab secara fitrah “semangat” ini tidak ubahnya seperti “hati” yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Qolb yang berarti “membalikkan” atau “memalingkan”. Dari sini kemudian kita bisa memahami bahwa hati bersifat inkonsisten demikian pula dengan semangat, karena itu kita berharap semoga semangat ini terus menemani hingga aktivitas menulis menjadi bagian dari hidup kita.

Adapun narasumber hebat malam ini adalah Ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd, seorang nara sumber yang memiliki “jam terbang” luar biasa tinggi. Beliau sehari-hari adalah seorang pendidik di SMP Negeri 8 Semarang. Ibu Nora saat ini sudah menjadi penulis hebat yang karyanya tembus ke Penerbit Mayor PT Andi Offset, hebat bukan? Sudah pasti hebat karena beliau adalah alumni “Belajar Menulis Gelombang 8” yang merupakan hasil didikan Omjay dan Tim.

Menu perkuliahan yang disuguhkan malam ini adalah “Produktif Menulis Buku”. Menu ini cukup menggugah selera belajar menulis saya, karena saya mengaggap menu ini akan menyajikan trik dan tips lezat menulis produktif untuk mengasilkan sebuah buku. Materi yang disampaikan nara sumber malam ini begitu detail, isinya daging semua sehingga saya agak kesulitan membuat resume memilah dan memilih pont penting mana yang harus saya tulis.

Malam ini nara sumber membantu kita untuk membongkar rahasia menjadi penulis yang produktif. Produktif dalam menulis tentu saja bukan hal yang mudah, penulis yang produktif akan terlihat dari sejumlah karya tulis yang dihasilkannya dalam durasi waktu singkat karena itulah kemudian menjadi penulis produktif membutuhkan keistiqomahan dalam menghasilkan sebuah karya.

Berdasarkan pemaparan nara sumber, bahwa ada 5 trik yang dapat kita lakukan jika ingin menjadi penulis produktif yang menghasilkan beberapa karya dalam waktu singkat.

PERTAMA,  Mengikuti program menulis antologi atau kolaborasi. Program menulis ini sebagai langkah awal untuk menyadarkan kita bahwa setiap orang memiliki potensi diri. Jika kita masih merasa belum “percaya diri” misalnya menulis solo, maka setidaknya kita memilih alternative mengikuti program menulis antologi atau kolaborasi. Manfaat lain dari mengikuti program menulis kolaborasi adalah kita tidak terbebani menulis terlalu banyak bab untuk dijadikan buku. Di samping itu tentu kita akan banyak belajar dari pemikiran-pemikiran penulis lain.

KEDUA, Menulis setiap hari di blog. Menulis tiap hari tentu tidak mudah namun bukan berarti kita tidak berpeluang untuk dapat melakukannya. Menulis tiap hari menuntut  konsistensi dan keistiqomahan kita. Hal ini bisa kita capai jika kita mau mencoba dan terus berlatih. Seperti yang dilakukan nara sumber ketika menjadi “anak didik” Omjay, setiap hari menulis di blog dan tulisan-tulisan ini dikumpulkan dan diracik dengan melakukan perbaikan di sana sini sehingga menghasilkan sebuah buku yang diberi judul “Jurus Jitu menulis dan berprestasi” yang merupakan kumpulan resume dari pelatihan bersama Om Jay

KETIGA, Menulis di media social. Di samping rajin menulis di blog, kita juga bisa memanfaatkan media social misalnya dengan membuat status di Facebook atau instagram. Tulislah hal-hal menarik seperti cerita motivasi, pengalaman pribadi ataupun cerpen. Jika kita bisa konsisten menulis tiap hari, maka itu sangat mudah untuk kemudian dikumpulkan dan dibukukan.

KEEMPAT Menulis buku harian. Produktif menulis bisa juga kita lakukan dengan memanfaatkan diary atau buku harian. Kita bisa mencurahkan semua rasa yang kita miliki di buku harian, baik sedih, senang atau apapun yang kita rasakan. Jika catatan harian ini sudah terkumpul, maka kita bisa merubah cerita dalam catatan itu ke dalam karya fiksi atau pengalaman pribadi yang selanjutnya bisa dibukukan.

KELIMA  undang siswa untuk menulis. Jika kita berprofesi sebagai seorang guru, kita bisa memberikan tugas kepada siswa menulis pusi, cerpen atau pantun dengan tema tertentu. Jika karya-karya tersebut sudah terkumpul tentu selanjutnya bisa didokumentasikan dalam bentuk buku. Di samping itu cara lain yang bisa kita lakukan misalnya dengan membuat Grup menulis lalu undanglah siswa untuk bergabung dan berkontribusi dalam bentuk membuat karya tulis. Agar terarah, kita bisa menentukan tema tulisan yang bisa dipilih oleh siswa. Karya tulisan yang terkumpul di grup ini selanjutnya tentu saja bisa kita dokumentasikan dalam bentuk buku.

Bagaimana teknik menulis buku?

Pertanyaan ini perlu kita pahami jawabannya agar karya yang nantinya kita hasilkan bisa menjadi karya yang berkualitas. Lalu apa saja teknisnya? (1). Tentukan tema buku yang akan ditulis; (2) Buatlah Outline / TOC/ Daftar isi; (3) membuat jadwal berdasarkan outline; (4) Mulai menulis berdasarkan outline yang sudah dibuat; (5) melakukan revisi dengan bantuan yaitu minta beberapa teman membaca naskah yang ditulis untuk bisa menemukan kesalahan-kesalahan terutama dalam penulisan; (6) Terakhir penerbit, Setelah semua tahapan sudah dilalui, maka tahapan yang terakhir adalah masuk ke penerbit.

Bagaimana membuat daftar isi yang baik?

Sebelum mulai menulis karya, kita harus membuat daftar isi karena hal ini sangatlah penting. Beberapa alasan pentingnya pembuatan daftar isi adalah (1) daftar isi merupakan kerangka pikiran dalam menuangkan setiap ide dalam buku yangg akan ditulis; (2) daftar isi membantu kita menjabarkan tiap bab dan sub bab dalam buku; (3) daftar isi membantu kita memahami secara utuh awal dan akhir dari buku yang akan kita tulis; (4) Membantu kita dalam mencari referensi / pustaka yang kita butuhkan; (5) Agar tulisan dalam buku lebih terfokus dan tidak sampai keluar dari topic bahasan; (6) Dan yang paling penting, daftar isi  membantu kita untuk membuat target kapan buku itu harus selesai. Misalnya jika kita memiliki 5 bab dalam daftar isi, kita mungkin dapat menargetkan kelima bab ini harus selesai dalam 5 bulan. Berarti 1 bab harus selesai dalam 1 bulan. Dengan adanya target tersebut, tentu kita akan mudah untuk menyelesaikan buku dalam durasi waktu yang singkat.

Membuat daftar isi yang baik harus menentukan dulu jenis naskah yang akan dipublikasikan, apakah naskah tersebut fiksi atau non fiksi. Jika naskah tersebut non fiksi maka formula yang digunakan adalah  2W+ 1H, artinya rangkaian bab pada buku yang akan ditulis harus mendeskripsikan jawaban dari pertanyaan WHY, WHAT, dan HOW. Dengan demikian, maka harus dipartisi menjadi 3 bagian,  bab awal mendeskripsikan jawaban untuk pertanyaan “WHY”.

Selanjutnya bagian bab kedua menjawab WHAT (apa) artinya bab tersebut menjelaskan pengertian, jenis, atau mungkin ciri khusus dari apa yang akan kita tulis di buku tersebut. Sebagai contoh: jika kita menulis tentang “Mengenal Media”, maka perlu pertanyaan turunan yaitu “Apa Itu Media” lalu apa jenis-jenisnya dan sebagainya.

Adapun bab berikutnya yang biasanya merupakan bab akhir, biasanya menjawab HOW (bagaimana). Nah, untuk menjawab HOW ini, dapat dibuat lebih dari 1 bab karena How meliputi tahap pembuatan, pelaksanaan, penerapan, hasil dan kelebihan serta kekurangan. Misalnya Penerapan Model Pembelajaran TGT, lalu bagaimana implementasinya, skenarionya, hubungannya dengan model yang lain serta kelebihan dan kekurangannya.

Sedangkan naskah fiksi seperti novel, maka cara membuat daftar isi adalah dengan:

1. Tentukan prolog, Biasanya pengenalan tokoh, setting cerita, awal cerita. Biasanya di prolog ini belum ada konflik, alur juga belum terlalu terlihat karena masih merupakan bagian awal dari cerita

2. Tentukan konflik cerita, biasanya di bab-bab pertengahan sudah mulai muncul apa yang menjadikan konflik atau permasalahan dari cerita itu. Ini merupakan bab inti karena di dalamnya ada hikmah yang dapat diambil dari pembaca

3. Tentukan klimaks dari konflik. Ini biasanya masih ada di bab pertengahan yang merupakan puncak dari konflik yang terjadi.

4. Tentukan solusi dari konflik yang ada. Ini merupakan bagian bab sebelum akhir bab. Biasanya penulis menyajikan solusi permasalahan dari konflik.

Nah inilah rahasia untuk menjadi penulis produktif. Jika anda ingin menjadi penulis produktif yang bisa menyelesaikan penulisan buku dalam durasi singkat tanpa mengabaikan kualitas, maka tips dan trik yang dipaparkan di atas menjadi menu wajib yang harus dipedomani. Demikian hasil dari resume pertemuan ke 7 yang bisa saya ramu dari pemaparan nara sumber. Mungkin jika ada hal yang terlewat, mohon kiranya diberikan catatan di kolom komentar. Saran dan masukkan anda menjadi solusi terbaik agar tulisan ini menjadi lebih baik.

Selasa, 19 Januari 2021

GURU MILLENIAL MENULIS DI BLOG (Pertemuan ke 6)

Hari ini Jumat 15 Januari 2021 merupakan pertemuan ke 6 kegiatan belajar menulis yang dimotori Omjay. Semoga pertemuan demi pertemuan bisa kita lalui dengan semangat. Kegiatan ini sungguh luar biasa, bisa mempertemukan kita dalam satu wadah yang dimana kita berasal dari daerah yang berbeda-beda, kita berasal dari tempat yang berjauhan bahkan kita tidak pernah saling berjabat tangan. Namun jarak yang jauh, daerah yang berbeda-beda tidak lagi menjadi sekat yang membatasi sebuah silaturrahmi. Sebab kecanggihan teknologi saat ini senantiasa memberikan ruang kepada kita untuk tetap berjumpa, saling mengenal dan bersilaturrahmi. 

Materi pertemuan kali ini disuguhkan oleh nara sumber yang luar biasa beliau adalah Ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd. SD. Adapun menu yang disuguhkan malam ini adalah “Blog Sebagai Identitas Digital bagi Guru Millenial”. Tidak diragukan lagi Ibu Theresia memiliki kompetensi yang mumpuni di bidang pendidikan, hal ini bisa kita telusuri dari ide-ide yang dituangkan di blog, nampaknya inilah pesan yang ingin disampaikan nara sumber dengan menyuguhkan tema malam ini, bahwa seorang guru sejatinya mampu menjadikan blog sebagai identitas digital. Nah dengan begitu kita bisa dengan cepat mengenal atau mengetahui tentang seseorang di era digital ini. Hanya dengan mengklik tautan atau mungkin hanya dengan menulis “kata kunci”
 menggunakan mesin pencarian google.

Sebagai seorang guru yang ditakdirkan hidup di era digital ini, saya sejatinya harus bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam melakoni peran saya sebagai seorang pendidik. Kecanggihan teknologi ini memberi dampak yang cukup positif bagi perkembangan pendidikan. Karena pendidikan dan semua komponen di dalamnya cenderung bersifat dinamis. Sebagai contoh, sebelum masa pandemi Covid-19  pembelajaran bisa kita lakukan dengan tatap muka dan ketika pandemi mulai menebar terror kita pun dipaksa untuk menutup sekolah-sekolah dan pembelajaran mulai bergeser memanfaatkan teknologi dengan system daring.

Guru millennial yang hidup di era digital ini tentu saja akan mampu mendesain pembelajaran dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, berbeda halnya dengan guru “Kolonial” istilah yang saya gunakan untuk guru yang tidak mampu memanfaatkan kemajuan teknologi justru akan tergilas. Namun terror yang ditebar Covid-19, dari sisi yang berbeda justru memberi dampak positif bagi guru “kolonial” sebab “mereka” dipaksa untuk melaksanakan pembelajaran dengan “daring”, dengan demikian secara otomatis  harus belajar untuk mengakrabkan diri dengan teknologi.

Pembelajaran “ala korona” yang saat ini kita lakukan akan menjadi semacam percepatan bagi seorang guru untuk mengasah kompetensi digital. Mengapa harus memiliki kompetensi tersebut? karena saat ini kita sudah memasuki abad 21 di mana salah satu jenis keterampilan yang harus dimiliki baik oleh guru maupun siswa adalah Literasi. Dan salah satu literasi dasar yang harus dimiliki adalah Literasi Digital. Di samping itu, siswa yang kita hadapi saat ini adalah siswa generasi milenial yang tentu saja mempunyai kecakapan digital karena mereka tumbuh dan akrab dengan kemajuan teknologi yang ada di lingkungan sekitarnya.

Sebagai langkah awal bagi kita yang ditakdirkan hidup di era milenial ini, setidaknya bisa memanfaatkan blog sebagai media untuk mengasah kompetensi digital. Apa yang harus kita lakukan di blog? Kita berlatih untuk menulis, menulis apa saja, menulis apa yang kita rasakan, menulis apa yang kita pikirkan, terlebih lagi menulis yang berkaitan langsung dengan tugas pokok kita sebagai seorang guru misalnya dengan menulis materi pembelajaran, model dan desain pembelajaran, teknik evaluasi dan sebagainya.

Lalu bagaimana caranya membuat konten blog yang menarik dan berkualitas ? tips untuk membuat konten blog yang menarik dan berkualitas adalah (1) hindari plagiasi; (2) mudah dipahami dan diterapkan; (3) buatlah kontens yang singkat, padat, dan jelas; (4) mengkombinasikan tulisan dengan gambar, animasi atau video; (5) kontennya harus kekinian (up to date); (6) hindari konten yang berbau hoaks; (7) ciptakan  Engaging  Content: (8) lakukan swa editing untuk menghindari typo.

Jika konten yang kita buat sudah mengacu pada tips tersebut, maka langkah berikutnya adalah kita harus mengoptimalkannya lagi dengan menjadikan blog yang kita buat sebagai sebuah ruang kelas di mana siswa bisa mengakses materi pembelajaran, link video pembelajaran, soal-soal latihan dan semua hal yang berkaitan dengan pembelajaran.

Saya kira ini ilmu hasil racikan yang dapat saya paparkan dari menu materi yang disuguhkan nara sumber malam ini. Mungkin masih banyak bagian dari ilmu yang dipaparkan nara sumber belum tertuang dalam resume ini, dan tentunya ini bagian dari peluang para pembaca Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 17 untuk berbagi ilmu agar paparan resume ini menjadi lebih lengkap.

Senin, 18 Januari 2021

SEMANGAT MENULIS DAN BUDAYA LITERASI (Pertemuan ke 5)

Alhamdulillah hari ini Jumat 13 Januari 2021 perkuliahan para pegiat literasi memasuki hari yang ke 5. Tidak terasa kita sudah disuguhkan ilmu dan pengalaman luar biasa dari para nara sumber. Hari ini menu perkuliahan disuguhkan bapak Bambang Purwanto, S.Kom., G
r. atau akrab dengan sapaan “Mr. Bams”.
 Pertemuan kali ini mengangkat tema “ Menebarkan Semangat Hobi Menulis untuk Gerakan Literasi Sekolah”.

Sebagai seorang yang sudah terlanjur jatuh cinta pada dunia tulis menulis, sejatinya semangat menulis tidak sebatas keinginan memiliki blog pribadi yang selalu ramai dikunjungi, atau tidak sebatas menuangkan ide-ide hebat pada halaman-halaman buku namun jauh yang lebih hebat dan luar biasa dari semua itu adalah kita mampu menjadikan hobi ini semacam lokomotif yang akan menggerakan semangat literasi di lingkungan masing-masing.  

Hal inilah yang dilakukan Mr. Bams, menjadikan hobi menulis sebagai pondasi untuk membangun budaya literasi yang dimulai dari lingkungan sekolah. Gerakan yang dilakukan Mr. Bams dimulai sejak tahun 2015 dengan adanya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diinisasi oleh Anis Baswedan. Adapun program literasi yang dilakukan Mr. Bams ketika itu adalah melaksanakan kegiatan Gerakan 15 menit membaca sebelum belajar.

Mr. Bams membuat program literasi mingguan dengan kegiatan Senin Membaca Kitab Suci (SMKS), kemudian hari selasa-kamis membaca buku non pelajaran dan pada hari Jumat ada kegiatan yang diistilahkan dengan Jumat Ayo Menulis (JAM). Program ini sesungguhnya menjadi benih yang nantinya diharapkan menjadi semacam budaya yang dilakukan secara konsisten oleh warga sekolah.

Dalam rangka mengevaluasi program ini, maka dibuat alat evaluasi berupa table dengan indikator capaian yang benar-benar terukur untuk melihat perkembangan membaca dan menulis yang dilakukan oleh seluruh siswa di sekolah. Program ini tentu saja akan memetakan siswa setidaknya menjadi  kelompok, ada siswa yang memang dengan niat yang ikhlas mengikuti program ini, ada juga siswa mengikuti program ini karena keterpaksaan. Namun jika program ini secara terus menerus dilaksanakan dan menjadi semacam “pembiasaan” di sekolah, maka siswa yang awalnya merasa terpaksa lambat laun akan menikmati program ini.

Semangat literasi dalam pandangan agama juga memiliki posisi yang cukup strategis. Kita bisa lihat misalnya dalam kajian agama (baca: Islam) bahwa ayat atau pesan pertama kali yang disampaikan Allah SWT kepada manusia adalah perintah untuk membaca (lihat QS al ‘Alaq 1-5). Perintah membaca ini bersifat umum, Tuhan dalam QS al ‘Alaq ayat 1 memerintahkan membaca apa saja, tidak sebatas teks tertulis. Menikmati keindahan alam, keindahan langit dengan bintang yang bertaburan sesungguhnya adalah proses membaca. Maka point penting yang ingin disampaikan al Quran dalam konteks ini adalah bagaimana kita bisa menjadikan membaca sebagai sebuah aktivitas yang membudaya.